Logo
>

Emas Menuju USD6.000 di Tengah Bara Selat Hormuz

Eskalasi Israel–Iran dan risiko penutupan Selat Hormuz dorong proyeksi emas ke USD6.000, ditopang sentimen suku bunga The Fed dan tekanan rupiah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Emas Menuju USD6.000 di Tengah Bara Selat Hormuz
Tidak hanya emas global yang diprediksi akan mencapai level USD6.000, harga emas domestik pun diperkirakan akan menembus Rp3,5 juta per gram. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia memasuki fase volatilitas tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk eskalasi konflik Israel–Iran dan risiko gangguan di jalur strategis Selat Hormuz. 

Seperti diketahui, kombinasi faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta dinamika perang dagang mendorong penguatan permintaan terhadap aset lindung nilai.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan peluncuran serangan pre-emptif terhadap Iran. Perkembangan tersebut meningkatkan persepsi risiko global, terutama karena kawasan Teluk merupakan pusat distribusi energi dunia. 

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global, memperbesar potensi lonjakan harga energi dan tekanan inflasi internasional. Kondisi ini secara historis berkorelasi dengan penguatan harga emas sebagai instrumen safe haven.

Analis komoditas Ibrahim Assuaibi, menyatakan eskalasi perang yang melibatkan Israel, Iran, serta kepentingan Amerika Serikat meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong arus dana ke logam mulia. 

Ia menyebut harga emas berpotensi menembus USD6.000 per troy ounce pada Maret apabila konflik terus berlanjut. Pada fase awal, ia memproyeksikan kemungkinan lonjakan harga ke area USD5.500 per troy ounce sebagai respons terhadap sentimen geopolitik.

Dari Kebijakan Moneter hingga Federal Reserve

Kenaikan harga emas dalam skenario tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor konflik, tetapi juga dinamika kebijakan moneter. Arah suku bunga Federal Reserve menjadi variabel penting dalam pembentukan tren harga logam mulia. 

Peluang penurunan suku bunga pada 2026 dinilai masih terbuka, terutama jika terjadi perubahan kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat setelah berakhirnya masa jabatan Jerome Powell. Nama Kevin Warsh disebut sebagai salah satu kandidat yang berpotensi mendorong pelonggaran moneter lebih agresif.

Secara historis, penurunan suku bunga dan pelemahan dolar Amerika Serikat meningkatkan daya tarik emas karena biaya peluang memegang aset non-yielding menjadi lebih rendah. Likuiditas yang lebih longgar juga berkontribusi terhadap penguatan harga komoditas berbasis dolar. 

Dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil dan ekspektasi pelonggaran moneter, kombinasi tersebut memperkuat momentum kenaikan emas di pasar global.

Ketegangan perang dagang turut menjadi sentimen tambahan. Rencana penerapan tarif impor sebesar 15 persen oleh Amerika Serikat terhadap mitra dagang berpotensi memicu tekanan baru pada perdagangan internasional. 

Ketidakpastian kebijakan perdagangan dan potensi gangguan rantai pasok global memperbesar minat investor terhadap aset lindung nilai, termasuk emas.

Emas Domestik Diprediksi Mencapai Rp3,5 Juta per Gram

Dari sisi domestik, pergerakan harga emas juga dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam skenario pelemahan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS, harga emas batangan berpotensi mengalami kenaikan lebih tinggi secara nominal. 

Proyeksi harga logam mulia di pasar dalam negeri disebut dapat mencapai Rp3.500.000 per gram apabila harga global menembus level tinggi dan nilai tukar terdepresiasi.

Secara keseluruhan, dinamika harga emas pada Maret ditentukan oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, stabilitas jalur energi seperti Selat Hormuz, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat. 

Interaksi faktor-faktor tersebut membentuk sentimen risiko global yang tercermin pada pergerakan logam mulia sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar keuangan internasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79