Logo
>

Energi Dunia Tercekik usai Selat Hormuz Lumpuh 5 Hari

Perang AS–Iran mengganggu jalur energi global. Ratusan kapal tertahan, ekspor minyak dan LNG Timur Tengah tersendat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Energi Dunia Tercekik usai Selat Hormuz Lumpuh 5 Hari
Konflik AS–Iran melumpuhkan Selat Hormuz lima hari, menahan ratusan kapal dan mengancam pasokan minyak serta gas dunia.

KABARBURSA.COM — Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini tak lagi sekadar konflik militer. Dampaknya merembet cepat ke jalur energi global. Serangan kapal selam Amerika terhadap kapal perang Iran di perairan dekat Sri Lanka pada Rabu memperlebar medan konflik sekaligus memperdalam krisis pelayaran di Selat Hormuz yang sudah lumpuh selama lima hari.

Jalur laut paling vital bagi energi dunia itu kini nyaris membeku. Ratusan kapal tertahan, perdagangan minyak dan gas terganggu, sementara harga energi global mulai bergerak liar.

Serangan kapal selam Amerika terhadap kapal Iran terjadi di tengah langkah Presiden AS Donald Trump yang mencoba meredam lonjakan harga energi. Washington bahkan berjanji akan memberikan perlindungan militer bagi kapal-kapal yang mengangkut minyak dan gas dari Timur Tengah.

“Tidak peduli apa yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan aliran energi dunia tetap berjalan,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Kamis, 5 Maret 2026.

Data pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan setidaknya 200 kapal tertahan di perairan terbuka dekat negara-negara produsen energi utama Teluk. Kapal-kapal tersebut termasuk tanker minyak, kapal pengangkut LNG, hingga kapal kargo. Mereka berlabuh di perairan dekat Irak, Arab Saudi, dan Qatar tanpa kepastian kapan bisa melanjutkan pelayaran.

Ratusan kapal lainnya bahkan belum berhasil memasuki Selat Hormuz. Jalur ini merupakan arteri energi global yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan pada jalur ini berarti guncangan bagi seluruh pasar energi internasional.

Sejak konflik pecah pada Sabtu, setidaknya delapan kapal telah terkena dampak serangan di sekitar kawasan tersebut.

Pada Rabu, kapal kontainer berbendera Malta Safeen Prestige dilaporkan rusak akibat proyektil ketika berlayar menuju bagian utara Selat Hormuz. Badan operasi maritim Angkatan Laut Inggris UKMTO mengatakan awak kapal akhirnya meninggalkan kapal setelah serangan tersebut. Beberapa kapal lain juga terkena dampak.

Tanker minyak Libra Trader yang berbendera Kepulauan Marshall mengalami ledakan keras ketika berlayar sekitar 7 sampai 10 mil laut dari pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Pecahan proyektil yang tidak diketahui asalnya menghantam kapal itu.

Kapal kargo Gold Oak yang berbendera Panama juga terkena proyektil di lokasi yang sama. Meski begitu, kedua kapal tersebut tidak mengalami kerusakan besar dan tidak ada korban dari awak kapal.

Qatar Hentikan Produksi LNG

Ketegangan juga menghantam sektor gas dunia. Qatar dilaporkan akan menghentikan seluruh proses pencairan gas pada Rabu dan diperkirakan tidak dapat kembali ke produksi normal selama setidaknya satu bulan.

Dua sumber yang mengetahui keputusan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa raksasa energi QatarEnergy bahkan telah mengumumkan force majeure untuk pengiriman LNG setelah fasilitas produksinya terkena serangan. Di Irak, produksi minyak juga mulai dipangkas karena tangki penyimpanan sudah penuh sementara tanker tidak dapat berlayar untuk mengangkut minyak.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait juga menghadapi kesulitan memuat minyak ke kapal tanker. Namun belum jelas apakah negara-negara tersebut sudah menurunkan produksi.

Di tengah kemacetan pelayaran itu, hanya satu perjalanan kapal tanker yang berhasil menembus Selat Hormuz pada Selasa. Kapal tanker jenis Suezmax bernama Pola berlayar menuju Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah.

Data pelacakan kapal LSEG menunjukkan kapal tersebut mematikan sistem pelacak AIS ketika mendekati selat pada 2 Maret, kemudian kembali muncul sehari kemudian di dekat Abu Dhabi. Langkah mematikan pelacak seperti itu sering dilakukan kapal yang mencoba menghindari risiko serangan atau pengawasan.

Ketegangan juga membuat biaya asuransi perang untuk kapal melonjak tajam. Broker asuransi Gallagher menyebut biaya perlindungan kini naik setidaknya lima kali lipat dibanding sebelum konflik.

“Tarif asuransi kini jauh lebih tinggi dibanding yang biasanya dihadapi pemilik kapal maupun penyewa,” kata Angus Blayney dari Gallagher.

Ia menambahkan, biaya perlindungan akan sangat bergantung pada jenis kapal, rute pelayaran, serta muatan yang dibawa.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).