Logo
>

Eskalasi Konflik Timur Tengah Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan harga internasional, melesat USD4,47 atau sekitar 4,86 persen menjadi USD96,45 per barel

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Eskalasi Konflik Timur Tengah Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak
Ilustrasi minyak dunia. Foto: Dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis setelah Iran meningkatkan serangan terhadap infrastruktur minyak dan jalur transportasi di kawasan Timur Tengah. Eskalasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru akan konflik yang berkepanjangan, sekaligus potensi terganggunya arus distribusi minyak global melalui Selat Hormuz—salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan harga internasional, melesat USD4,47 atau sekitar 4,86 persen menjadi USD96,45 per barel pada pukul 14.33 WIB. Sebelumnya, harga sempat menembus ambang psikologis USD100 per barel pada awal sesi perdagangan. Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan pasar energi global.

Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan Amerika Serikat juga mencatat kenaikan signifikan. Harga WTI naik USD4,05 atau 4,64 persen hingga mencapai USD91,30 per barel.

Pada awal pekan ini, Brent bahkan sempat menyentuh USD119,50 per barel pada perdagangan Senin. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak pertengahan 2022. Namun harga sempat terkoreksi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan bahwa perang melawan Iran berpotensi segera berakhir.

Retorika keras tetap mewarnai situasi geopolitik. Seorang juru bicara komando militer Iran pada Rabu menyampaikan pesan tegas kepada Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa pasar harus bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak menembus USD200 per barel, seraya menegaskan bahwa stabilitas harga energi sangat bergantung pada keamanan kawasan yang kini tengah terganggu.

Para analis menilai situasi di kawasan Teluk masih jauh dari kata mereda. Tim analis dari ING menyebut belum ada indikasi de-eskalasi konflik, sehingga gangguan terhadap arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan akan terus berlangsung dalam waktu dekat.

Menurut mereka, satu-satunya cara untuk menurunkan harga minyak secara berkelanjutan adalah dengan memastikan jalur distribusi melalui Selat Hormuz kembali aman dan beroperasi normal. Tanpa kepastian tersebut, risiko lonjakan harga yang lebih tinggi masih membayangi pasar energi global.

Ketegangan juga tercermin dari meningkatnya serangan terhadap kapal tanker. Dua kapal asing yang mengangkut bahan bakar minyak dari Irak dilaporkan diserang oleh pihak tak dikenal di wilayah perairan teritorial Irak. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran hebat di kedua kapal.

Direktur Jenderal Perusahaan Pelabuhan Irak, Farhan al-Fartousi, menyatakan bahwa penyelidikan awal mengindikasikan kapal-kapal tersebut kemungkinan diserang oleh perahu bermuatan bahan peledak yang berasal dari Iran.

Untuk meredam gejolak harga minyak yang semakin liar, Badan Energi Internasional (IEA) memutuskan melepas cadangan strategis minyak dalam jumlah besar. Total pelepasan mencapai 400 juta barel—angka yang disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah koordinasi cadangan energi global.

Amerika Serikat menjadi kontributor terbesar dalam langkah darurat tersebut, dengan melepas sekitar 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kebijakan tersebut hanya akan memberikan dampak jangka pendek. Tina Teng, analis dari Moomoo ANZ, mengatakan pelepasan cadangan strategis kemungkinan hanya berfungsi sebagai penyangga sementara bagi pasar.

Ia menilai gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, ditambah potensi penghentian produksi dalam skala besar di beberapa negara Timur Tengah, dapat menciptakan risiko kekurangan pasokan energi dalam jangka panjang.

Pandangan serupa juga disampaikan analis ING. Mereka menyoroti ketidakpastian terkait kecepatan distribusi minyak tambahan ke pasar serta pertanyaan apakah volume pasokan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan global hingga jalur pengiriman utama kembali pulih.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif. China, misalnya, dilaporkan telah menginstruksikan larangan ekspor bahan bakar olahan selama periode Maret. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik serta menghindari potensi kekurangan bahan bakar di dalam negeri akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus memanas.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.