KABARBURSA.COM - PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) mencatat lonjakan mobilitas yang signifikan menuju wilayah timur jaringan Trans Jawa sepanjang periode arus mudik 11–22 Maret 2026. Angkanya melonjak drastis—mencapai 129,84 persen dibandingkan kondisi lalu lintas normal.
Sebanyak 790.791 kendaraan tercatat melintas ke arah timur melalui Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama. Angka ini jauh melampaui volume normal yang hanya berada di kisaran 344.067 kendaraan. Lonjakan tersebut menjadi indikator kuat tingginya intensitas pergerakan masyarakat hingga H+1 Lebaran.
Corporate Secretary & Legal PT JTT, Ria Marlinda Paallo, menyampaikan bahwa perseroan telah menyiapkan serangkaian langkah taktis untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas. Fokus utamanya: memastikan kenyamanan pengguna jalan, terutama saat fase arus balik mulai terbentuk.
Data lalu lintas harian pada 22 Maret 2026 memperlihatkan tren yang konsisten. Volume kendaraan menuju arah timur Trans Jawa mencapai 61.159 unit—melonjak 128,10 persen dari kondisi normal yang hanya 26.812 kendaraan.
Di sisi lain, arus kendaraan dari timur menuju Jakarta mulai memperlihatkan eskalasi. Sebanyak 38.841 kendaraan tercatat melintas, meningkat 7,25 persen dibandingkan volume normal sebesar 36.214 kendaraan.
Angka tersebut menjadi sinyal awal pergerakan arus balik. Untuk mengantisipasi peningkatan volume, GT Cikampek Utama mengoperasikan 22 gardu tol menuju arah Jakarta guna memperlancar proses transaksi dan meminimalkan antrean.
Sebagai bagian dari strategi distribusi lalu lintas, JTT kembali menerapkan insentif tarif. Potongan sebesar 30 persen diberlakukan untuk perjalanan menerus dari GT Kalikangkung ruas Batang–Semarang menuju GT Cikampek Utama ruas Jakarta–Cikampek. Kebijakan ini berlaku mulai 26 Maret 2026 pukul 00.00 WIB hingga 27 Maret 2026 pukul 24.00 WIB.
Tak hanya itu, diskon tarif sebesar 23 persen untuk seluruh transaksi di ruas Batang–Semarang tetap berlangsung sejak 12 hingga 31 Maret 2026. Langkah ini dirancang untuk meratakan distribusi kendaraan sekaligus memberikan stimulus langsung bagi pengguna jalan tol.
Namun, dinamika arus tidak sepenuhnya simetris. Jumlah kendaraan dari wilayah timur menuju Jakarta melalui GT Cikampek Utama pada periode H-10 hingga H+1 tercatat 232.380 kendaraan—justru turun 31,49 persen dibandingkan kondisi normal sebanyak 339.198 kendaraan.
Peningkatan volume kendaraan juga terpantau di sejumlah ruas tol yang berada di bawah pengelolaan JTT Group, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Jawa Tengah, arus kendaraan menuju Semarang melalui GT Kalikangkung mencapai 442.392 unit—melonjak 127,06 persen. Sebaliknya, kendaraan yang meninggalkan Semarang tercatat 156.041 unit, turun 14,71 persen.
Sementara itu, di GT Banyumanik, arus menuju Solo mencapai 502.702 kendaraan atau meningkat 81,03 persen. Untuk arah Jakarta, volume kendaraan tercatat 212.187 unit, turun tipis 5,01 persen dari kondisi normal.
Di Jawa Timur, tren peningkatan juga tampak jelas. Di GT Warugunung, kendaraan menuju Surabaya mencapai 288.201 unit atau naik 18,73 persen. Sementara arah Jakarta melonjak lebih tinggi, mencapai 313.923 kendaraan atau naik 37,58 persen.
Di GT Kejapanan Utama, sebanyak 318.617 kendaraan bergerak menuju Malang—naik 12,64 persen. Adapun kendaraan menuju Surabaya tercatat 305.776 unit atau meningkat 1,87 persen.
Sedangkan di GT Singosari, volume kendaraan menuju Malang mencapai 170.386 unit atau naik 4,63 persen. Untuk arah Surabaya, jumlahnya mencapai 160.248 kendaraan, meningkat 4,36 persen.
Di tengah lonjakan mobilitas tersebut, JTT kembali mengingatkan pengguna jalan tol Trans Jawa untuk mengedepankan keselamatan. Perencanaan perjalanan yang matang menjadi krusial. Kondisi kendaraan harus prima. Pengemudi pun dituntut dalam kondisi optimal.
Selain itu, kecukupan bahan bakar serta saldo uang elektronik juga perlu dipastikan sebelum memulai perjalanan. Hal-hal sederhana, namun menentukan kelancaran di jalan.(*)