KABARBURSA.COM – Penguatan harga batu bara pada Selasa, 18 November 2025, memberi sinyal bahwa reli komoditas hitam ini belum kehilangan momentum. Gerak naik yang mendekati level tertinggi sejak akhir Agustus, tidak terjadi dalam ruang hampa.
Kenaikan ini terjadi dari kombinasi fundamental global, sentimen kebijakan China, serta dinamika permintaan energi yang kembali mencuat, baik itu di Asia maupun Eropa.
Di pasar acuan, harga batu bara Newcastle November 2025 menanjak USD1,3 ke USD111,5 per ton. Sementara kontrak Desember melonjak lebih kuat, naik USD1,75 ke USD115,25. Untuk kontrak Januari 2026 juga ikut terkerek USD1,25 menuju USD115,4 per ton.
Kenaikan simultan tiga kontrak terdekat ini menunjukkan bahwa pasar bukan hanya memperhitungkan kondisi jangka pendek, tetapi juga membaca peluang keberlanjutan permintaan hingga kuartal pertama 2026.
Menariknya, pergerakan kontras terlihat di pasar Rotterdam. Harga batu bara Eropa justru kompak melemah, dengan kontrak November turun USD0,55 ke USD95,9 dan kontrak Desember terkoreksi USD0,7 ke USD97,4.
Kontrak Januari pun susut USD0,9 ke USD98,25 per ton. Divergensi antara Newcastle dan Rotterdam ini menjadi indikator penting bahwa penguatan kali ini lebih berakar pada dinamika Asia, bukan pemulihan permintaan global secara menyeluruh.
China Pastikan Batu Bara Jadi Pilar Energi
Pusat perhatian jelas tertuju ke China. Pernyataan Menteri Keuangan Lan Foan akhir pekan lalu bahwa kebijakan fiskal akan diperkuat lima tahun ke depan, membuka pintu lebar bagi ekspektasi stimulus lanjutan.
Bagi pasar batu bara, pernyataan itu mengartikan dua hal, yaitu likuiditas fiskal yang lebih longgar untuk menopang pertumbuhan dan stabilitas permintaan energi di negara konsumen batu bara terbesar dunia.
China menegaskan akan mengandalkan instrumen anggaran, perpajakan, obligasi pemerintah, hingga transfer fiskal untuk menjaga momentum ekonomi. Penegasan ini menjadi sebuah sinyal bahwa industri energi, termasuk batu bara, akan tetap menjadi pilar penyokong.
Sikap Beijing yang kembali menegaskan ketergantungan terhadap PLTU batu bara dalam jangka panjang, menjadi katalis tambahan. Target puncak permintaan (peak demand) yang dipatok pada 2030 memperlihatkan bahwa transisi energi di China tidak akan berlangsung seagresif prediksi sebelumnya.
Dengan kata lain, batu bara tetap menjadi tulang punggung suplai listrik di fase kritis pertumbuhan ekonomi baru, termasuk ekspansi kapasitas untuk pusat data (data centers) yang semakin haus energi.
Dari perspektif performa, sentimen ini menciptakan pola penguatan harga yang cukup solid. Saat Eropa masih berada dalam fase keseimbangan energi dengan volatilitas gas dan listrik musiman, Asia justru menunjukkan bahwa kebutuhan batu bara masih bertahan tinggi.
Negara-negara seperti India, Vietnam, hingga Filipina juga memicu permintaan tambahan, sementara produsen besar seperti Indonesia dan Australia belum memberikan indikasi penambahan suplai besar yang dapat menurunkan harga.
Dengan kombinasi optimisme stimulus fiskal China, ketergantungan PLTU yang lebih panjang dari perkiraan, serta permintaan Asia yang tetap kokoh, pasar batu bara kini berada dalam fase bullish yang lebih terstruktur.
Selama tidak ada kejutan dari sisi regulasi atau lonjakan suplai, reli harga batu bara berpotensi berlanjut setidaknya hingga memasuki musim dingin global dan awal 2026.(*)