Logo
>

Harga Batu Bara Rebound, BUMI Menghijau

Lonjakan harga gas global akibat konflik Timur Tengah mendorong permintaan batu bara meningkat. Harga batu bara tembus level tertinggi dua tahun, sementara saham BUMI menguat di tengah net buy asing.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Batu Bara Rebound, BUMI Menghijau
Pasar mulai mempertimbangkan penggunaan batu bara untuk menjaga pasokan listrik di tengah perang AS-Israel vs Iran. (Foto: Dok HRUM)

KABARBURSA.COM – Harga batu bara dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat, 5 Maret 2026, dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring lonjakan harga gas global setelah konflik di Timur Tengah melibatkan Iran, yang mendorong sejumlah negara meningkatkan penggunaan batu bara untuk menjaga pasokan listrik.

Analis Panmure Liberum Tom Price, mengatakan pasar batu bara global saat ini menghadapi tekanan harga yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. 

“Pasar batu bara global belum pernah melihat tekanan harga sebesar ini sejak invasi Rusia ke Ukraina,” ujarnya.

Berdasarkan data perdagangan komoditas internasional, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Maret 2026 naik USD2,6 menjadi USD134,25 per ton. Kontrak April 2026 juga meningkat USD2,35 ke level USD135,25 per ton, sementara kontrak Mei 2026 naik USD1,95 menjadi USD135,55 per ton.

Penguatan serupa juga terlihat pada pasar batu bara Eropa. Harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Maret 2026 naik USD1,95 menjadi USD123,45 per ton. Kontrak April 2026 meningkat USD3,2 menjadi USD126,45 per ton, sementara kontrak Mei 2026 bertambah USD3,55 menjadi USD125,65 per ton.

Data lembaga pemantau harga komoditas Argus menunjukkan harga batu bara termal di Eropa yang digunakan untuk pembangkit listrik telah melonjak sekitar 26 persen sejak konflik di Timur Tengah pecah. Harga komoditas tersebut kini berada di kisaran USD133 per ton.

Harga Gas Eropa Melesat 53 Persen Pasca Konflik Hormuz

Kenaikan harga batu bara terjadi seiring lonjakan harga gas global yang memicu perubahan pola konsumsi energi di sejumlah negara. Lonjakan harga gas membuat sejumlah pembangkit listrik kembali menggunakan batu bara sebagai alternatif bahan bakar.

Harga gas di Eropa tercatat meningkat sekitar 53 persen sejak konflik memanas pada akhir pekan lalu. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi, khususnya gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Beberapa negara di Eropa dan Asia Timur Laut mulai mencari tambahan pasokan batu bara untuk menjaga ketahanan listrik. Pergeseran penggunaan bahan bakar pembangkit listrik tercatat terjadi di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, serta sejumlah negara Uni Eropa.

Meski konflik di Iran tidak secara langsung mengganggu jalur perdagangan batu bara global, perang tersebut memicu lonjakan harga minyak dan gas yang berdampak pada pasar energi secara keseluruhan. 

Sebagian besar jalur pengiriman batu bara dunia juga tidak melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan logistik relatif terbatas dibandingkan komoditas energi lainnya.

Sebagai perbandingan, lonjakan harga batu bara sebelumnya terjadi setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022. Pada periode tersebut, sejumlah negara Eropa meningkatkan penggunaan batu bara setelah mengurangi ketergantungan terhadap gas Rusia.

Saat itu harga batu bara bahkan sempat menembus lebih dari US$400 per ton di pasar internasional, mencerminkan lonjakan permintaan energi alternatif di tengah krisis pasokan gas.

BUMI Diprediksi Sentuh ARA

Di pasar saham domestik, penguatan harga batu bara juga terjadi bersamaan dengan pergerakan saham emiten tambang batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, saham BUMI ditutup menguat 2,56 persen ke level Rp240 per saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kenaikan tersebut terjadi di tengah aktivitas transaksi investor asing yang tercatat melakukan pembelian bersih. Data Stockbit menunjukkan saham BUMI mencatat net foreign buy sebesar Rp42,3 miliar pada perdagangan hari tersebut.

Meskipun menguat dalam satu sesi perdagangan, pergerakan saham BUMI masih menunjukkan koreksi dalam periode yang lebih panjang. Dalam sepekan terakhir saham ini tercatat turun sekitar 6,9 persen.

Dalam periode satu bulan, saham BUMI juga mengalami penurunan sekitar 2,4 persen. Sementara sejak awal tahun atau year to date (YTD), saham perusahaan tersebut melemah sekitar 34,4 persen.

CGS International Sekuritas Indonesia dalam riset perdagangan untuk Jumat, 6 Maret 2026, menyebutkan saham BUMI memiliki area target terdekat di kisaran Rp246 hingga Rp252 per saham.

Dari sisi teknikal, level support saham BUMI berada pada area Rp232 hingga Rp236 per saham. Level tersebut menjadi rentang harga yang dipantau pelaku pasar dalam pergerakan jangka pendek.

Pergerakan harga batu bara global dan aktivitas perdagangan saham emiten energi domestik saat ini berlangsung di tengah dinamika pasar energi internasional yang dipengaruhi oleh konflik geopolitik serta perubahan pola konsumsi energi di berbagai kawasan dunia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79