Logo
>

Harga BBM Non Subsidi Melonjak, Dex Tembus Rp23.900 Turbo Naik Tajam

Pertamina naikkan harga Dexlite dan Pertamina Dex lebih dari 60 persen, sementara Pertamax tetap, penyesuaian mengikuti lonjakan minyak dunia.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga BBM Non Subsidi Melonjak, Dex Tembus Rp23.900 Turbo Naik Tajam
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kenaikan terhadap BBM non-subsidi di luar kendali pemerintah. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi oleh Pertamina per 18 April 2026 cukup mengejutkan. Kenaikan terkonsentrasi pada produk dengan spesifikasi tinggi, terutama Pertamax Turbo serta dua varian diesel, Dexlite dan Pertamina Dex. 

Dalam satu langkah, harga Pertamax Turbo melonjak dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 dan Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.

Jika dilihat dari besaran kenaikan, lonjakan paling tajam terjadi pada kelompok diesel. Dexlite mengalami kenaikan sekitar Rp9.400 per liter atau lebih dari 66 persen, sedangkan Pertamina Dex naik Rp9.400 atau sekitar 64 persen. 

Pertamax Turbo juga mencatat kenaikan signifikan sebesar Rp6.300 atau mendekati 48 persen. Sebaliknya, dua produk utama di segmen bensin, yakni Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95, tidak mengalami perubahan harga dan tetap berada di level Rp12.300 dan Rp12.900 per liter.

Pola ini menunjukkan bahwa penyesuaian harga lebih diarahkan pada produk dengan sensitivitas tinggi terhadap harga minyak global dan biaya pengolahan. Produk diesel dan bahan bakar beroktan tinggi umumnya memiliki struktur biaya yang lebih kompleks, sehingga perubahan harga minyak mentah langsung tercermin pada harga jual. 

Hal ini sejalan dengan mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi yang mengacu pada formula berbasis harga minyak dunia, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022 dan Kepmen ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.

Pemerintah menegaskan, harga BBM non-subsidi memang berada di luar kendali langsung negara. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa proses penyesuaian harga telah melalui pembahasan dengan badan usaha energi dan tinggal menunggu waktu implementasi. 

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kenaikan yang terjadi merupakan hasil akhir dari proses evaluasi yang sudah berjalan, bukan keputusan mendadak.

Dampak dari kenaikan ini berpotensi menyebar ke berbagai sektor, terutama yang bergantung pada bahan bakar diesel seperti logistik dan transportasi. Kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex dalam skala besar dapat mempengaruhi biaya distribusi barang dan jasa, mengingat kedua jenis bahan bakar ini banyak digunakan oleh kendaraan niaga dan sektor industri. 

Sementara itu, tidak berubahnya harga Pertamax dan Pertamax Green 95 menunjukkan bahwa tekanan pada segmen konsumsi kendaraan pribadi relatif lebih terbatas dalam fase ini.

Dari sisi sentimen, pasar energi domestik berada dalam posisi menyesuaikan terhadap dinamika global. Ketika harga minyak dunia naik, tekanan pada BBM non-subsidi menjadi tidak terhindarkan karena mekanisme harga yang mengikuti pasar. 

Namun, perbedaan perlakuan antar jenis BBM menunjukkan adanya segmentasi dalam penerapan harga, di mana produk tertentu mengalami penyesuaian lebih cepat dibandingkan yang lain.

Perubahan ini juga memperlihatkan bagaimana volatilitas harga minyak global langsung diterjemahkan ke dalam harga ritel ketika mekanisme pasar dijalankan. Dalam konteks ini, kebijakan penahanan harga sebelumnya berperan sebagai penyangga sementara, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan penyesuaian. 

Akibatnya, ketika koreksi dilakukan, besaran kenaikan menjadi lebih terasa dalam satu waktu.

Secara keseluruhan, kenaikan harga BBM non-subsidi kali ini mencerminkan respons langsung terhadap tekanan biaya energi global, dengan dampak yang paling terlihat pada segmen diesel dan bahan bakar performa tinggi.

Sementara itu, stabilnya harga Pertamax series menunjukkan adanya diferensiasi dalam implementasi harga, yang pada akhirnya membentuk distribusi beban kenaikan yang tidak merata di antara kelompok pengguna BBM.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79