KABARBURSA.COM – Harga emas dunia menutup perdagangan Jumat waktu setempat, 28 Maret 2026, dengan lonjakan tajam setelah aksi buy on dip mendorong harga kembali menguat di tengah ketidakpastian konflik Iran yang belum mereda sepenuhnya.
Emas spot tercatat naik 2,6 persen ke level USD4.491,78 per troy ounce pada sesi akhir perdagangan, setelah sempat menyentuh intraday tertinggi di USD4.554,39. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup menguat 2,7 persen di USD4.492,5. Kenaikan ini mencerminkan respons pasar yang cepat terhadap pelemahan harga sebelumnya.
Pergerakan ini juga menjadi pembalikan arah setelah tekanan yang terjadi di awal pekan. Pada Senin, 23 Maret 2026, harga emas sempat turun hingga menyentuh level terendah dalam empat bulan di USD4.097,99.
Emas kembali menarik minat beli saat harga bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Kondisi tersebut memicu masuknya dana baru yang memanfaatkan penurunan harga sebagai titik akumulasi.
Perubahan arah harga ini tidak lepas dari dinamika yang berkembang di pasar energi dan geopolitik. Harga minyak yang masih bertahan di atas USD110 per barel menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, di tengah konflik yang telah memasuki pekan keempat sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dampaknya mulai meluas ke ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga energi dan pupuk yang memperbesar tekanan biaya.
Kondisi tersebut turut menggeser ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini tidak lagi memperhitungkan peluang penurunan suku bunga sepanjang 2026, berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang mengarah pada dua kali pemangkasan suku bunga sebelum konflik memanas.
Pergeseran ini secara historis menjadi faktor penahan bagi kenaikan emas, mengingat suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Namun dalam pergerakan terbaru, emas tetap mampu menguat di tengah tekanan tersebut. Kondisi ini mencerminkan bahwa peran emas sebagai aset lindung nilai masih dominan, terutama ketika ketidakpastian geopolitik belum menunjukkan tanda mereda.
Pernyataan pelaku pasar juga menunjukkan bahwa fase koreksi sebelumnya justru membuka ruang akumulasi baru yang memperkuat momentum kenaikan jangka pendek.
Target Harga Emas Kembali ke USD5.000
Di sisi lain, proyeksi jangka menengah masih terus disesuaikan. Commerzbank menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi USD5.000 per troy ounce dari sebelumnya USD4.900, dengan mempertimbangkan bahwa koreksi yang terjadi tidak akan berlangsung lama.
Bank tersebut juga memperkirakan konflik Iran dapat mereda pada musim semi, dan berpotensi mengubah kembali arah ekspektasi kebijakan moneter. Termasuk kemungkinan penurunan suku bunga hingga sekitar 75 basis poin pada pertengahan tahun depan.
Kenaikan harga juga terjadi pada logam mulia lainnya. Perak menguat 2,2 persen ke USD69,54 per troy ounce, platinum naik 2,3 persen ke USD1.868,89, dan paladium bertambah 1,8 persen ke USD1.377,25.
Kenaikan logam mulia lainnya ini menunjukkan bahwa pergerakan tidak hanya terpusat pada emas, tetapi meluas ke seluruh kelompok logam mulia.
Harga Emas Antam Semakin Murah
Sementara itu, pada pasar domestik, harga emas Antam semakin murah. Pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, harganya turun Rp40.000 menjadi Rp2.810.000 per gram.
Penurunan yang lebih dalam terjadi pada harga buyback yang terkoreksi Rp76.000 ke level Rp2.414.000 per gram.
Kondisi ini muncul setelah harga emas Antam sempat tertahan di level Rp2.850.000 per gram pada Kamis, 26 Maret 2026, usai mencatat kenaikan tipis sehari sebelumnya. Pola pergerakan ini menunjukkan fase konsolidasi yang diikuti koreksi, berbeda dengan emas global yang justru menguat signifikan pada akhir pekan.
Meski mengalami koreksi dalam jangka pendek, tren tahunan emas Antam masih menunjukkan penguatan. Sejak awal 2026, harganya berada di level Rp2.488.000 per gram dan kini telah naik sekitar 16 persen.
Untuk pecahan, harga emas Antam pada Jumat menunjukkan struktur yang tetap konsisten di seluruh ukuran. Harga 0,5 gram berada di Rp1.455.000, 1 gram Rp2.810.000, dan 5 gram Rp13.825.000.
Sementara itu, pecahan besar seperti 100 gram dipatok Rp275.212.000 dan 1.000 gram mencapai Rp2.750.600.000, mencerminkan skala harga yang tetap mengikuti basis per gram dengan penyesuaian tertentu.
Pergerakan pada akhir pekan ini menempatkan emas Antam dalam fase penyesuaian jangka pendek, di tengah dinamika global yang masih bergerak cepat. Ketidaksinkronan arah antara harga domestik dan global menunjukkan bahwa pasar masih mencari titik keseimbangan baru, seiring perubahan sentimen yang dipicu oleh faktor geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter global.(*)