KABARBURSA.COM – Harga emas global Kembali tertahan, tidak melonjak tajam namun stabil. Pergerakannya tertekan kombinasi sentimen geopolitik dan tekanan makro yang saling berlawanan.
Harga emas spot berada di level USD4.761,79 per ons, relatif datar secara harian, namun secara mingguan mencatat kenaikan hampir 2 persen. Meskipun pasar tidak bergerak agresif, arah akumulasi masih berlangsung secara bertahap.
Kondisi ini tidak lepas dari pelemahan dolar AS yang menjadi salah satu penopang utama emas. Melemahnya indeks dolar membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan tetap terjaga.
Tekanan terhadap dolar muncul setelah adanya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang sempat meredakan kekhawatiran pasar. Meskipun begitu, ketidakpastian terhadap keberlanjutan kesepakatan tersebut masih membayangi.
Selat Hormuz Belum Pulih, Lebanon Masih Tegang
Di sisi lain, faktor geopolitik belum sepenuhnya hilang dari radar pasar. Meski serangan udara telah berhenti, jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Ketegangan di Lebanon pun masih berlangsung.
Artinya, risiko masih tetap ada, dan ini menjaga emas tetap berada dalam posisi yang relatif kuat sebagai aset lindung nilai.
Namun, dorongan tersebut tidak berjalan tanpa hambatan. Data inflasi Amerika Serikat yang meningkat tajam, bahkan tertinggi dalam hampir empat tahun, menjadi faktor penyeimbang yang signifikan.
Kenaikan inflasi ini berkaitan erat dengan lonjakan harga energi, yang kemudian membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung tereduksi karena tidak memberikan imbal hasil.
Di titik ini, emas berada di persimpangan dua kekuatan besar. Di satu sisi, emas didukung oleh pelemahan dolar dan ketidakpastian geopolitik. Namun di sisi lain, tekanan dari inflasi tinggi dan ekspektasi suku bunga menjadi faktor yang menahan laju kenaikan.
Kondisi ini tercermin dari pergerakan harga yang cenderung membentuk higher lows, namun belum mampu menembus level psikologis berikutnya di USD5.000 per ons.
Perak Naik, Platinum dan Palladium Terkoreksi
Pergerakan logam mulia lainnya turut menguatkan gambaran tersebut. Perak naik 1,6 persen ke USD76,26 per ons, sementara platinum dan palladium justru terkoreksi, meskipun secara mingguan masih mencatat kenaikan.
Ini menunjukkan bahwa minat terhadap logam mulia tetap ada, tetapi tidak sepenuhnya merata di seluruh segmen.
Emas Antam di Level 2,857 Juta
Di pasar domestik, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menunjukkan kenaikan terbatas. Pada Jumat, 10 April 2026, harga emas Antam berada di level Rp2,857 juta per gram, naik Rp7.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Sementara itu, harga buyback juga mengalami kenaikan sebesar Rp14.000 menjadi Rp2,619 juta per gram. Kenaikan ini mencerminkan respons pasar domestik terhadap tren global yang masih cenderung menguat, meskipun dalam laju yang tidak agresif.
Dengan demikian, pergerakan emas saat ini tidak mencerminkan euforia, melainkan fase konsolidasi dengan bias menguat. Harga tetap ditopang oleh faktor eksternal seperti dolar dan geopolitik, namun ruang kenaikan masih diuji oleh tekanan dari sisi suku bunga dan inflasi.
Dalam struktur seperti ini, arah berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana keseimbangan antara risiko global dan kebijakan moneter berkembang dalam waktu dekat.(*)