KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas dunia dan logam mulia pada pekan depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menyampaikan pada Sabtu, 13 Juni 2026, harga emas dunia ditutup di level USD4.209 per troy ons. Sementara logam mulia di harga Rp2,71 juta per gram.
Ibrahim menyebut apabila pada pekan depan harga emas dunia mengalami pelemahan, maka akan berada di level support pertama di kisaran USD4.058 per troy ons.
"Sedangkan untuk logam mulianya itu di level Rp2,69 juta per gram," kata dia dalam keterangannya, Minggu, 14 Juni 2026.
Andai pelemahan berlanjut, Ibrahim melihat suport kedua emas dunia akan berada di harga USD3.929 per troy ons. Sedangkan logam mulia kemungkinan bisa turun ke sekitar Rp2,5 juta per gram.
Di sisi lain, jika tren harga mengalami penguatan, kata Ibrahim, emas dunia akan mencapai resistance pertama di level USD4.394 per troy ons dengan harga logam mulia di harga Rp2,74 juta per gram.
"Kemudian kalau seandainya menguat, harga emas dunia di resistance keduanya di USD4.571 per troy ons, sementara logam mulianya naik menjadi Rp2,88 juta per gram," jelasnya.
Ibrahim menilai terdapat dua faktor utama yang bakal menentukan arah pergerakan harga saham dunia dan logam mulia. Antara lain seperti perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat.
Ia menilai pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang menyebut adanya rencana kesepakatan damai dengan Orang menjadi salah satu sentimen yang patut disoroti investor.
"Isi dari perdamaian ini adalah pembukaan Selat Hormuz akan dibuka setelah ada pendatanganan," ujar dia.
Selain itu, lanjut Ibrahim, kedua negara juga disebut akan membahas isu lain seperti pengelolaan reaktor nuklir melalui perjanjian terpisah.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa sebagian pelaku pasar masih meragukan efektivitas implementasi kesepakatan tersebut. Pasalnya, ketegangan di kawasan Timur Tengah dinilai belum sepenuhnya mereda, terutama terkait potensi konflik yang melibatkan Israel dan Lebanon.
Ibrahim menjelaskan munculnya harapan perdamaian ini telah mendorong harga minyak mentah dunia bergerak turun. Dia bilang, kondisi ini berpotensi memengaruhi pergerakan indeks dolar AS dan aset safe haven seperti emas.
"Karena kita tahu bahwa harga emas dunia dan logam mulia mengalami pelemahan disebabkan adanya blokade Selat Hormuz yang membuat harga dolar AS naik," pungkasnya. (*)