KABARBURSA.COM – Harga emas global masih menunjukkan keindahannya meskipun tertekan penguatan dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Jumat waktu setempat, atau Sabtu dinihari WIB, 7 Maret 2026, harga emas menguat.
Rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan memicu kembali ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik sekitar 1,4 persen menjadi USD5.149,14 per ons pada pukul 13.31 waktu New York. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup naik 1,6 persen ke level USD5.158,70 per ons.
Meski mencatat penguatan pada akhir pekan, harga emas masih berada di jalur penurunan mingguan. Sepanjang pekan ini, emas tercatat turun sekitar 2,4 persen dan menjadi penurunan mingguan pertama dalam lima pekan terakhir.
Angka Pengangguran Bertambah
Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan signifikan. Laporan terbaru menunjukkan jumlah pekerjaan dalam sektor nonfarm payrolls berkurang sebanyak 92.000 posisi pada bulan lalu.
Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 59.000 pekerjaan. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran di Amerika Serikat meningkat menjadi 4,4 persen.
Data tersebut muncul menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret mendatang. Berdasarkan proyeksi pasar yang dihimpun melalui alat CME FedWatch, bank sentral Amerika Serikat diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, dengan potensi pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juli.
Dolar AS Menguat dan Konflik Timur Tengah
Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat turut mempengaruhi pergerakan harga emas sepanjang pekan ini. Indeks dolar AS tercatat menuju kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari satu tahun, seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Penguatan dolar membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional. Kondisi ini turut membatasi ruang kenaikan harga logam mulia tersebut meskipun permintaan terhadap aset lindung nilai meningkat.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga terus berkembang. Israel melancarkan serangan udara ke Beirut setelah sebelumnya mengeluarkan perintah evakuasi di wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon. Serangan tersebut memperluas konflik regional yang dimulai sekitar sepekan sebelumnya.
Pada saat yang sama, kenaikan tajam harga minyak mentah turut menjadi faktor yang memengaruhi dinamika pasar logam mulia. Harga minyak global bergerak menuju kenaikan mingguan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, yang memicu kembali kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Harga Emas Terkerek 18 Persen
Sepanjang tahun berjalan, harga emas tercatat masih menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Logam mulia tersebut telah naik lebih dari 18 persen sejak awal tahun, didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, dinamika kebijakan moneter global, serta peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai.
Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang beragam pada perdagangan terbaru. Harga perak spot naik sekitar 2,6 persen menjadi USD84,30 per ons.
Platinum spot tercatat menguat 0,5 persen ke level USD2.131,50 per ons. Sementara itu, harga paladium turun sekitar 1,1 persen menjadi USD1.646,84 per ons.
Meskipun mencatat kenaikan harian, seluruh logam mulia tersebut berada di jalur penurunan mingguan seiring penguatan dolar Amerika Serikat serta dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan data ekonomi terbaru.(*)