KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia berada di titik kritis dengan potensi bergerak ke dua arah ekstrem. Kondisi ini bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan respons pasar terhadap implementasi kesepakatan Iran–Amerika Serikat.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono menilai, pasar saat ini belum sepenuhnya mempercayai peluang damai, sehingga pergerakan harga masih akan sangat ditentukan oleh bukti konkret di lapangan.
“Pasar minyak saat ini cenderung sangat skeptis dan kemungkinan besar tidak akan melakukan pricing in secara penuh dalam waktu singkat,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2025.
Menurut dia, pelaku pasar masih dibayangi trauma historis dari negosiasi yang gagal, sehingga reaksi terhadap kabar positif cenderung terbatas.
“Reaksi awal mungkin hanya berupa penurunan sekitar US$2–3 atau maksimal US$10 sebagai respons terhadap berita baik, namun penurunan total baru terjadi saat implementasi poin-poin krusial benar-benar dimulai,” katanya.
Wahyu menjelaskan, harga minyak saat ini mengandung premi risiko geopolitik yang secara historis berkisar USD5-10 per barel. Jika risiko tersebut hilang, harga berpotensi kembali ke level fundamental.
“Jika Selat Hormuz dinyatakan aman secara konkret, Brent berpotensi terkoreksi ke kisaran USD68-72,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan skenario sebaliknya juga sangat terbuka apabila gencatan senjata gagal dan konflik meningkat. “Jika eskalasi terjadi dan diikuti gangguan di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak sangat cepat. Dalam 24–48 jam bisa bergerak ke USD85-100 karena kepanikan pasar,” katanya.
Dalam jangka satu hingga dua minggu, lanjut dia, harga bahkan berpotensi kembali menembus tiga digit apabila gangguan fisik terhadap pasokan benar-benar terjadi.
“Tidak ada kapasitas cadangan global yang bisa menggantikan kehilangan pasokan dalam skala besar secara instan,” ujar Wahyu.
Data global memperkuat pandangan tersebut. Reuters mencatat kapasitas cadangan produksi (spare capacity) OPEC hanya sekitar 5,3 juta barel per hari, yang sebagian besar berada di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Namun, keterbatasan jalur distribusi membuat tambahan produksi tidak serta-merta bisa menutup gangguan pasokan, terutama jika Selat Hormuz terganggu.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global, dengan potensi gangguan mencapai hingga 20 juta barel per hari dalam skenario ekstrem.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan bahkan dengan jalur alternatif, dampak gangguan tetap signifikan. “Bahkan dengan kemampuan ekspor melalui wilayah barat, tetap ada gangguan sekitar 350 juta barel yang akan hilang dari pasar,” ujarnya seperti dikutip Reuters.
Upaya mitigasi melalui cadangan strategis juga dinilai terbatas. Cadangan minyak strategis Amerika Serikat (SPR) berada di kisaran 415 juta barel, jauh di bawah kapasitas maksimal, dan pelepasan cadangan oleh negara-negara anggota IEA disebut belum cukup untuk menggantikan potensi kehilangan pasokan besar.
Di sisi lain, pergerakan harga terbaru menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik. Reuters melaporkan harga minyak Brent sempat turun ke sekitar USD98 per barel, terkoreksi hampir 6 persen, setelah muncul harapan gencatan senjata di Timur Tengah.
Namun, di balik dinamika geopolitik tersebut, pasar minyak global sebenarnya menghadapi tekanan struktural dari sisi fundamental.
Wahyu menilai risiko kelebihan pasokan (oversupply) pada 2026 sangat nyata, bahkan tanpa tambahan produksi dari Iran.
“Tanpa kembalinya Iran pun, pasar diperkirakan mengalami surplus sekitar 1,5 hingga 3,2 juta barel per hari, didorong peningkatan produksi dari Amerika Serikat, Guyana, dan Brasil,” ujarnya.
Data dari International Energy Agency (IEA) bahkan menunjukkan surplus bisa mencapai sekitar 3,7 juta barel per hari, dengan pertumbuhan pasokan global sekitar 2,4 juta bpd, jauh melampaui pertumbuhan permintaan yang hanya 0,85–0,93 juta bpd.
IEA dalam laporannya menyebut kondisi tersebut sebagai “bloated balances”, atau keseimbangan pasar yang berlebih, yang menandakan pasar berada dalam kondisi kelebihan pasokan.
Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi global dan perubahan struktural seperti transisi energi serta meningkatnya penggunaan kendaraan listrik turut menekan pertumbuhan konsumsi minyak.
Dengan demikian, lonjakan harga minyak saat ini dinilai lebih banyak didorong oleh faktor geopolitik dibandingkan kondisi fundamental pasar. Tanpa risiko konflik di Timur Tengah, harga minyak berpotensi kembali ke level yang lebih rendah, mencerminkan kelebihan pasokan yang mulai terbentuk di pasar global. (*)