KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan pada perdagangan Jumat, 28 Februari 2026. Kenaikan ini didorong ketegangan geopolitik dan sinyal pengetatan pasokan global.
Kontrak berjangka Brent sebagai acuan global naik 2,65 persen secara harian ke kisaran USD72,8 per barel pada pukul 20.00 GMT. Angka ini sekaligus menembus level psikologis USD70 per barel. Secara bulanan, Brent mencatat kenaikan 9,24 persen sepanjang Februari.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 2,49 persen dan menetap di dekat USD67 per barel pada sesi terakhir bulan Februari.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran terkait negosiasi nuklir di Jenewa, yang memicu kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Dari sisi fundamental, data persediaan minyak mentah AS menunjukkan kontraksi tak terduga, yang menandakan keseimbangan pasokan dan permintaan yang semakin ketat dalam jangka pendek. Pasar juga memantau pertemuan OPEC+ mendatang yang akan menentukan kebijakan kuota produksi selanjutnya.
Keputusan terkait pemangkasan atau penyesuaian produksi akan menjadi variabel penting bagi arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.
Prediksi Harga Minyak di 2026
Meski harga saat ini bergerak di atas USD70 per barel, proyeksi jangka menengah menunjukkan dinamika yang berbeda. J.P. Morgan Global Research memperkirakan harga Brent rata-rata berada di kisaran USD60 per barel pada 2026.
Proyeksi ini didasarkan pada fundamental pasokan dan permintaan yang dinilai masih longgar. Permintaan minyak global diperkirakan tumbuh 0,9 juta barel per hari (mbd) pada 2026, namun pasokan global diproyeksikan melampaui pertumbuhan tersebut. Hal ini berpotensi menciptakan surplus.
Data Januari menunjukkan indikasi surplus minyak yang diperkirakan berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Dalam proyeksi tersebut, pemangkasan produksi baik secara sukarela maupun tidak sukarela, dinilai diperlukan untuk mencegah akumulasi persediaan berlebih dan menjaga stabilitas harga di sekitar USD60 per barel.
Faktor geopolitik tetap menjadi variabel yang dapat mengubah keseimbangan pasar secara signifikan. Spekulasi pasar mengenai kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran mendorong Brent diperdagangkan sekitar USD10 per barel, di atas estimasi nilai wajarnya pada pertengahan Februari.
Namun, skenario gangguan pasokan yang berkepanjangan dinilai terbatas, dengan asumsi bahwa potensi aksi akan bersifat terarah dan menghindari infrastruktur produksi serta ekspor minyak Iran.
Perubahan Rezim di Negara Produsen Pengaruhi Stok Minyak Dunia
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan rezim di negara produsen minyak skala menengah hingga besar dapat memicu lonjakan harga signifikan. Sejak 1979, tercatat delapan peristiwa perubahan rezim di negara produsen minyak utama yang berdampak pada harga global, dengan kenaikan rata-rata mencapai 76 persen dari awal hingga puncak krisis.
Revolusi Iran 1979, misalnya, menyebabkan harga minyak lebih dari dua kali lipat dan memicu resesi global, sementara produksi minyak Iran hingga kini masih sekitar 2 juta barel per hari di bawah level sebelum revolusi.
Di sisi lain, dinamika sanksi dan arus perdagangan minyak global juga mengalami penyesuaian. Hampir 70 persen minyak mentah Rusia kini berada di bawah pembatasan akibat sanksi.
India, yang sebelumnya meningkatkan impor minyak Rusia, mengurangi pembelian sebesar 600 ribu hingga 800 ribu barel per hari, sementara aliran minyak Rusia ke China meningkat sekitar 0,5 mbd.
Penyesuaian ini mencerminkan pergeseran arus perdagangan global, dengan minyak Rusia tetap mengalir ke pasar internasional meski dengan diskon yang lebih besar dan kompleksitas logistik yang meningkat.
J.P. Morgan memperkirakan India tetap akan mempertahankan impor minyak Rusia di kisaran 0,8 hingga 1,0 mbd, mengingat harga minyak Urals Rusia masih kompetitif dibandingkan alternatif dari AS atau Timur Tengah.
Kembalinya minyak Venezuela ke pasar India pasca pelonggaran sanksi juga belum sepenuhnya menggantikan volume minyak Rusia.
Secara keseluruhan, lonjakan harga minyak saat ini mencerminkan kombinasi ketegangan geopolitik, penurunan persediaan AS, dan ekspektasi kebijakan produksi OPEC+.
Namun dalam proyeksi jangka menengah, pasar tetap dihadapkan pada potensi surplus pasokan global. Dengan begitu, arah harga selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan respons produsen utama terhadap dinamika keseimbangan pasar energi global.(*)