KABARBURSA.COM - Perdagangan minyak mentah global pada akhir pekan menunjukkan pergerakan yang cenderung stabil dengan kecenderungan menguat, di tengah kombinasi faktor teknikal, geopolitik, dan fundamental.
Harga Brent ditutup naik 0,14 persen ke level USD71,76 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun tipis 0,06 persen ke USD66,39 per barel.
Meskipun penutupan relatif datar, sepanjang sesi kedua kontrak sempat berada di zona negatif sebelum berbalik arah, mencerminkan dinamika intraday yang dipengaruhi perubahan sentimen.
Penguatan harga sebagian dipicu aksi short-covering setelah tekanan jual sebelumnya. Aktivitas ini menunjukkan adanya penutupan posisi jual oleh pelaku pasar, yang turut memberikan dorongan teknikal terhadap harga.
Di saat yang sama, pasar memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden AS mengenai kemungkinan konsekuensi serius jika Iran tidak mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko gangguan pasokan.
Respons Iran yang menyatakan tengah menyiapkan proposal tandingan menempatkan pasar dalam fase menunggu kepastian, sebagaimana tercermin dalam volatilitas intraday yang terbatas.
Posisi Strategis Iran
Dari sisi struktur risiko, Iran memiliki posisi strategis dalam pasar energi global. Negara tersebut merupakan produsen utama dan berada di kawasan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Setiap potensi eskalasi di kawasan tersebut berimplikasi langsung terhadap arus distribusi global. Data pasar derivatif menunjukkan peningkatan pembelian call options pada Brent, yang mengindikasikan adanya lindung nilai atau spekulasi terhadap potensi kenaikan harga lebih lanjut dalam jangka pendek.
Faktor fundamental turut mendukung pergerakan harga. Laporan Energy Information Administration mencatat penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 9 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini terjadi seiring peningkatan utilisasi kilang dan kenaikan ekspor, yang mencerminkan permintaan domestik maupun eksternal yang lebih tinggi.
Data tersebut memberikan sinyal pengetatan pasokan jangka pendek di pasar AS.
Rencana OPEC+
Namun demikian, prospek pasokan global tetap menjadi variabel penyeimbang. Pembicaraan mengenai rencana OPEC+ untuk melanjutkan peningkatan produksi mulai April menjadi perhatian pelaku pasar.
Proyeksi sejumlah analis menunjukkan adanya surplus pasokan yang berlanjut sejak paruh kedua 2025 hingga awal 2026. Dalam kerangka proyeksi tersebut, potensi kelebihan pasokan pada akhir tahun masih terbuka jika tidak diimbangi kebijakan penyesuaian produksi tambahan.
Secara mingguan, baik Brent maupun WTI mencatat kenaikan lebih dari 5 persen. Kenaikan ini mencerminkan kombinasi antara premi risiko geopolitik dan penurunan stok AS yang signifikan.
Struktur perdagangan menunjukkan bahwa sentimen jangka pendek ditopang oleh faktor risiko kawasan Timur Tengah dan dinamika inventori, sementara arah jangka menengah tetap dipengaruhi oleh kebijakan produksi OPEC+ dan keseimbangan pasokan global.
Dengan demikian, perdagangan minyak global saat ini berada pada persimpangan antara risiko geopolitik yang berpotensi memperketat pasokan dan proyeksi surplus struktural yang dapat membatasi kenaikan harga.
Pergerakan harga dalam sesi terakhir memperlihatkan pasar yang responsif terhadap berita geopolitik, namun tetap berhati-hati terhadap dinamika fundamental jangka menengah.(*)