Logo
>

Harga Minyak Melonjak Imbas Konflik di Timur Tengah

Harga minyak mentah Brent berjangka naik hingga 13 persen menjadi USD82,37 per barel

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Harga Minyak Melonjak Imbas Konflik di Timur Tengah
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak  melonjak pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026 imbas serangan Israel dan AS terhadap Iran. Kondisi diperparah akibat terganggunya pengiriman di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik hingga 13 persen menjadi USD82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate AS naik ke level tertinggi intraday USD75,33, naik lebih dari 12 persen. Meskipun kemudian sedikit terkikis USD4,80 atau 7,2 persen menjadi USD71,82.

"Langkah terbaru ini mencerminkan ketidakpastian seputar skala dan durasi konflik saat ini dan mengakui bahwa masa depan politik Iran mungkin memiliki implikasi besar bagi stabilitas Timur Tengah," kata James Hosie dari Shore Capital.

Lonjakan harga minyak ini disebut akan mengancam pemulihan ekonomi global, memicu kembali inflasi, dan dapat mendorong kenaikan harga bensin eceran di Amerika Serikat.

Dilaporkan sebuah sumber melalui Reuters, Arab Saudi telah menutup kilang minyak domestik terbesarnya setelah serangan pesawat tak berawak.

Selain itu, konflik yang meluas juga menyebabkan setidaknya tiga kapal tanker rusak, seorang pelaut tewas, dan 150 kapal terdampar di sekitar Selat Hormuz. Diketahui, selat ini merupakan jalur bagi kapal-kapal pembawa minyak etsea dengan seperlima dari permintaan global.

Selat Hormuz juga menjadi jalur bagi  kapal tanker yang mengangkut solar, bensin, dan bahan bakar lainnya ke pasar-pasar utama Asia termasuk China dan India. Jalur air ini juga merupakan rute untuk sekitar 20 persen gas cair dunia.

"Pasar mengakui keseriusan konflik ini, tetapi juga memberi sinyal bahwa, untuk saat ini, ini adalah guncangan geopolitik, bukan krisis sistemik," kata Priyanka Sachdeva, analis senior di Phillip Nova.

Adapun OPEC+, pada Minggu menyetujui peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April 2026. Analis RBC Capital, Helima Croft mengatakan setiap produsen OPEC+ pada dasarnya berproduksi pada kapasitas penuh kecuali Arab Saudi, kata

Di sisi lain Direktur Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengatakan bahwa pihaknya sedang menjalin kontak dengan produsen-produsen utama di Timur Tengah. Badan pengawas energi ini mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis dari negara-negara maju selama keadaan darurat.

Analis Citi memperkirakan harga Brent akan diperdagangkan antara USD80 dan USD90 per barel minggu ini di tengah konflik yang sedang berlangsung.

"Pandangan dasar kami adalah bahwa kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan sehingga menghentikan perang dalam waktu 1-2 minggu, atau AS memutuskan untuk mengurangi ketegangan setelah melihat perubahan kepemimpinan dan menghambat program rudal dan nuklir Iran dalam jangka waktu yang sama," tulis analis Citi yang dipimpin oleh Max Layton. (*) 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.