Logo
>

Harga Minyak Tergelincir 11 Persen, Brent di Level USD92

Harga Brent sempat jatuh ke USD88 per barel setelah Iran buka Selat Hormuz, namun risiko keamanan dan verifikasi global masih membayangi pasar energi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Minyak Tergelincir 11 Persen, Brent di Level USD92
Meskipun harga minyak rontok hingga 11 persen, namun pasar masih ragu dan tidak sepenuhnya mengabaikan faktor risiko. (Foto: Xinhua)

KABARBURSA.COM - Pergerakan harga minyak dunia kembali berbalik arah dalam waktu singkat setelah muncul sinyal perubahan kondisi di Selat Hormuz. Ketika Iran menyatakan jalur tersebut “sepenuhnya terbuka” bagi kapal komersial selama periode gencatan senjata, pasar langsung merespons dengan penurunan tajam harga energi. 

Brent crude yang sempat berada di atas USD98 per barel pada Jumat pagi langsung turun ke kisaran USD88, sebelum kembali bergerak di sekitar USD92 pada akhir sesi.

Perubahan ini menandai pergeseran cepat dari fase krisis pasokan menuju fase penyesuaian ekspektasi. Selat Hormuz senduru merupakan jalur distribusi strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. 

Ketika jalur ini terganggu sejak akhir Februari akibat konflik militer, arus tanker menyusut drastis dan mendorong harga minyak melonjak dari level di bawah USD70 hingga sempat menembus lebih dari USD119 per barel pada Maret.

Dalam konteks tersebut, pembukaan kembali jalur pelayaran langsung menurunkan premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak. Pasar mulai mengurangi ekspektasi gangguan pasokan, sehingga tekanan harga mereda secara cepat. 

Namun, pola pergerakan intraday yang sempat memantul kembali ke USD92 menunjukkan bahwa penyesuaian ini belum sepenuhnya stabil dan masih berada dalam fase pencarian keseimbangan baru.

Sentimen global turut bergerak seiring perubahan ini. Indeks saham utama di Amerika Serikat dan Eropa mencatat penguatan, dengan S&P 500 naik 1,2 persen, indeks Cac di Paris dan Dax di Frankfurt masing-masing menguat sekitar 2 persen, sementara FTSE 100 London naik 0,7 persen. 

Reli ini mencerminkan pergeseran persepsi risiko, dari kekhawatiran krisis energi menuju ekspektasi pemulihan stabilitas pasokan.

Pasar Masih Ragu

Meski demikian, pasar tidak sepenuhnya mengabaikan faktor risiko. Pernyataan Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz masih dalam tahap verifikasi oleh pelaku industri pelayaran internasional. 

BIMCO menyatakan bahwa status ancaman ranjau di jalur pelayaran belum jelas, sehingga rute tersebut belum dapat dianggap sepenuhnya aman untuk dilalui. International Maritime Organization juga masih melakukan penilaian terkait kepatuhan pembukaan jalur terhadap standar keselamatan navigasi internasional.

Kondisi ini menciptakan dualisme sentimen di pasar minyak. Di satu sisi, pernyataan resmi membuka jalur pelayaran menurunkan tekanan harga dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketidakpastian operasional di lapangan menjaga risiko tetap ada, sehingga potensi volatilitas masih terbuka. 

Hal ini terlihat dari pergerakan harga yang tidak sepenuhnya turun stabil, melainkan masih berfluktuasi dalam rentang yang lebar.

Dampak dari lonjakan harga sebelumnya masih terasa di sektor riil. Kenaikan minyak telah mendorong harga bahan bakar seperti bensin dan diesel, serta meningkatkan biaya avtur yang berpotensi menekan industri penerbangan. 

Selain itu, terganggunya distribusi pupuk, sekitar sepertiganya melewati Selat Hormuz, memicu kenaikan harga komoditas pertanian dan meningkatkan tekanan pada rantai pasok pangan.

Sejumlah Negara Mulai Menormalisasi Harga

Namun, data terbaru menunjukkan tanda awal normalisasi di beberapa titik. Di Inggris, harga bahan bakar mulai mengalami penurunan tipis untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai, meskipun levelnya masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelum perang. 

Pergerakan ini menunjukkan bahwa efek dari pembukaan jalur distribusi mulai merambat ke tingkat konsumen, meski belum sepenuhnya menghapus tekanan harga.

Dari sisi geopolitik, dinamika juga belum sepenuhnya selesai. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut pembukaan Selat Hormuz dan menyebut Iran tidak akan lagi menggunakan jalur tersebut sebagai alat tekanan global. 

Namun, pada saat yang sama, ia menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan permanen. Pernyataan ini menandakan bahwa fase saat ini masih merupakan transisi, bukan resolusi akhir dari konflik.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak dunia dalam data ini mencerminkan respons langsung terhadap perubahan ekspektasi pasokan, namun belum didukung oleh kepastian operasional yang solid. 

Harga telah turun karena risiko dianggap berkurang, tetapi belum sepenuhnya stabil karena faktor keamanan dan kebijakan masih dalam proses verifikasi. 

Dalam kondisi seperti ini, arah selanjutnya akan sangat bergantung pada realisasi di lapangan—apakah jalur pelayaran benar-benar kembali normal atau justru menghadapi hambatan baru yang dapat mengembalikan tekanan pada harga energi global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79