Logo
>

Harga Minyak Turun, Trump Ancam Sanksi Pembeli Minyak Rusia

Harga minyak dunia melemah setelah Trump beri Rusia waktu 50 hari untuk damai, atau pembeli minyaknya akan dikenai sanksi mulai Agustus.

Ditulis oleh Syahrianto
Harga Minyak Turun, Trump Ancam Sanksi Pembeli Minyak Rusia
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 1 dolar AS pada perdagangan Senin, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi baru terhadap pembeli minyak Rusia. Ancaman ini berpotensi mengganggu pasokan global, di tengah kekhawatiran yang masih membayangi terkait kebijakan tarif perdagangan AS.

    Seperti dikutip dari Reuters, kontrak berjangka Brent turun USD1,15 atau 1,63 persen ke level USD69,21 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) anjlok USD1,47 atau 2,15 persen menjadi USD66,98 per barel.

    Trump mengumumkan pengiriman senjata baru ke Ukraina dan memberi tenggat waktu 50 hari kepada Moskow untuk menyepakati perjanjian damai, atau pembeli minyak Rusia akan dikenai sanksi baru oleh Washington.

    Harga minyak sempat reli di awal sesi karena ekspektasi sanksi AS yang lebih keras. Namun, reli berbalik arah setelah pelaku pasar menilai ada ketidakpastian apakah AS benar-benar akan menindak tegas negara-negara yang masih membeli minyak dari Rusia.

    “Pasar menilai ini sebagai sinyal negatif karena tampaknya masih banyak waktu untuk negosiasi,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. “Ketakutan akan sanksi langsung terhadap minyak Rusia ternyata masih jauh dari kenyataan.”

    Tiongkok dan India saat ini menjadi dua tujuan utama ekspor minyak mentah Rusia. Namun, Bob Yawger dari Mizuho menilai kecil kemungkinan AS benar-benar mengenakan tarif 100 persen terhadap Tiongkok karena dikhawatirkan memicu lonjakan inflasi global.

    Pekan lalu, Trump menyebut akan mengeluarkan “pernyataan besar” soal Rusia pada Senin, menyusul kekecewaannya terhadap Presiden Vladimir Putin yang dinilai belum menunjukkan kemajuan dalam menghentikan perang di Ukraina.

    Data industri yang dikompilasi Reuters menunjukkan ekspor produk minyak Rusia melalui laut pada Juni turun 3,4 persen dibanding Mei, menjadi 8,98 juta ton metrik.

    Di Kongres AS, rancangan undang-undang bipartisan yang mengatur sanksi terhadap Rusia menunjukkan kemajuan. Di Eropa, para duta besar Uni Eropa hampir menyepakati paket sanksi ke-18 terhadap Rusia, termasuk revisi batas harga minyak.

    Pelaku pasar juga menanti hasil negosiasi tarif antara AS dan mitra dagang utamanya. Uni Eropa dan Korea Selatan pada Senin menyatakan tengah berupaya mencapai kesepakatan dagang dengan AS untuk meredam dampak tarif yang akan berlaku mulai 1 Agustus.

    “Ancaman tarif dari Trump benar-benar tidak bisa diterima,” tegas Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dalam konferensi pers bersama Kepala Perdagangan UE Maros Sefcovic di Brussels.

    Dari sisi permintaan, impor minyak mentah Tiongkok pada Juni naik 7,4 persen secara tahunan menjadi 12,14 juta barel per hari, level tertinggi sejak Agustus 2023, menurut data bea cukai.

    “Pasar masih melihat ketatnya pasokan, meski sebagian besar kenaikan stok terjadi di Tiongkok dan kapal, bukan di pusat penyimpanan utama,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo.

    Badan Energi Internasional (IEA) pekan lalu menyebut pasar minyak global bisa lebih ketat dari yang terlihat dalam jangka pendek. Namun, IEA menaikkan proyeksi pertumbuhan pasokan untuk tahun ini dan merevisi turun estimasi permintaan, yang mengisyaratkan potensi surplus pasar. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.