KABARBURSA.COM – Tingkat hunian hotel di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE) anjlok menjadi 16 persen pada Maret 2026 dari rata-rata normal 90 persen. Penurunan ini terjadi seiring eskalasi perang di Timur Tengah yang menekan sektor pariwisata kawasan.
Pelaku industri menyebut dampak konflik langsung terasa pada bisnis perhotelan. Eksekutif industri yang dikutip Financial Times menyatakan sektor ini mulai bersiap menghadapi perlambatan lebih awal. “Seluruh industri pada dasarnya sedang bersiap menghadapi musim sepi yang datang lebih cepat,” ujarnya, seperti dikutip, Rabu, 25 Maret 2026.
Chairman Fortune Group of Hotels Praveen Shetty mengatakan kondisi saat ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya. “Ini berbeda. Saat COVID dampaknya global, tetapi konflik menciptakan ketidakpastian yang berbeda,” katanya.
Ia menyebut dalam dua pekan terakhir aktivitas pariwisata hampir berhenti. “Kami tidak memiliki wisatawan. Penerbangan terganggu dan banyak destinasi utama ditutup. Itu langsung memukul bisnis,” ujar Shetty.
Menurut dia, tingkat hunian hotel turun signifikan dari kondisi normal. “Saat ini kami hanya beroperasi sekitar 30 persen dari kapasitas biasa, padahal ini periode yang biasanya ramai,” katanya.
Penurunan tajam tersebut mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi. Sejumlah hotel menutup lantai bahkan gedung, memangkas biaya tenaga kerja, serta menawarkan diskon besar untuk menjaga tingkat hunian.
Data Lighthouse Intelligence menunjukkan okupansi akomodasi di Dubai turun dari sekitar 90 persen menjadi 16 persen per 17 Maret 2026. Harga kamar untuk April dan Mei juga turun lebih dari 11 persen dibandingkan sebelum konflik.
Tekanan juga terlihat pada struktur tenaga kerja. Sejumlah karyawan dirumahkan sementara atau diminta mengambil cuti lebih awal untuk menekan biaya operasional.
Direktur Sunset Hospitality Group Antonio Gonzalez menyatakan perusahaan mulai melakukan penyesuaian operasional. “Kami melihat kebutuhan untuk melakukan pengurangan operasional sementara dan penyesuaian tenaga kerja jangka pendek,” ujarnya.
Selain itu, segmen makanan dan minuman turut terdampak, terutama karena periode Ramadan yang secara historis menekan aktivitas konsumsi. Pelaku industri berharap pemulihan permintaan dapat terjadi menjelang Idulfitri.
Meski demikian, pelaku usaha masih melihat peluang pemulihan. Shetty menyatakan kepercayaan terhadap dukungan pemerintah tetap kuat. “Saat COVID pemerintah membantu. Kami yakin dukungan akan kembali jika diperlukan,” katanya.
Para analis industri menilai ekonomi Dubai yang bergantung pada pariwisata dan perdagangan berisiko terdampak jika konflik berlangsung lebih lama. Namun, sektor ini dinilai memiliki ketahanan untuk pulih seperti pada krisis sebelumnya.(*)