KABARBURSA.COM — Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah kini memasuki fase yang lebih serius. Gangguan pasokan minyak membuat harga melonjak dan memaksa negara-negara tak hanya mengandalkan cadangan energi, tetapi juga menekan konsumsi.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar sepanjang sejarah pasar minyak dunia. Jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz yang biasanya mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak global kini tersendat.
Sekitar 20 juta barel minyak per hari yang biasanya melintas di jalur tersebut kini menyusut drastis. Dampaknya, harga minyak mentah melampaui USD100 per barel atau setara sekitar Rp1.690.000 per barel. Kenaikan ini juga menyeret harga produk turunan seperti solar, avtur, hingga gas LPG.
IEA menilai langkah pelepasan cadangan minyak saja tidak cukup menahan tekanan pasar. Pada 11 Maret, negara anggota bahkan telah melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat, terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut. Namun tekanan dinilai masih akan berlanjut jika konsumsi tidak ikut ditekan.
“Perang di Timur Tengah sedang menciptakan krisis energi besar, termasuk gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Tanpa penyelesaian cepat, dampaknya terhadap pasar energi dan ekonomi akan semakin parah,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, dikutip dari laman IEA, Rabu, 25 Maret 2026.
Ia menegaskan, dunia kini harus bergerak dari sekadar menambah pasokan menuju pengendalian konsumsi energi. “Langkah konkret yang bisa segera dilakukan dari sisi permintaan oleh pemerintah, pelaku usaha, dan rumah tangga untuk melindungi konsumen dari dampak krisis ini,” ujarnya.
Dalam laporan bertajuk Sheltering From Oil Shocks, IEA merinci sejumlah langkah yang bisa langsung diterapkan. Fokus utama berada di sektor transportasi yang menyumbang sekitar 45 persen konsumsi minyak global.
Salah satu langkah yang dinilai paling cepat berdampak adalah penerapan kerja dari rumah atau WFH untuk mengurangi kebutuhan bahan bakar harian. Selain itu, pembatasan kecepatan kendaraan minimal 10 kilometer per jam juga dinilai efektif menekan konsumsi.
IEA juga mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, serta menerapkan pembatasan kendaraan di kota besar secara bergiliran. Upaya lain seperti berbagi kendaraan dan pola berkendara efisien juga dinilai dapat menekan penggunaan bahan bakar.
Tak hanya transportasi darat, sektor penerbangan juga menjadi sorotan. Pengurangan perjalanan udara, terutama untuk kebutuhan bisnis, dinilai bisa menekan konsumsi avtur secara signifikan.
Di sisi rumah tangga, penggunaan LPG diarahkan untuk kebutuhan prioritas seperti memasak. IEA juga mendorong penggunaan alternatif energi yang lebih bersih agar tidak bergantung pada gas yang pasokannya sedang tertekan.
Sektor industri pun diminta beradaptasi dengan mengganti bahan bakar LPG ke alternatif lain seperti nafta jika memungkinkan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
IEA menekankan, peran pemerintah sangat penting dalam mendorong langkah ini melalui regulasi dan insentif yang tepat sasaran. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat juga harus diarahkan kepada kelompok yang paling terdampak agar lebih efektif dan tidak membebani fiskal.
Meski tidak dapat sepenuhnya menutup kekurangan pasokan, langkah pengendalian konsumsi dinilai dapat meredam tekanan harga, menjaga stabilitas pasar, serta memastikan energi tetap tersedia untuk kebutuhan yang paling mendesak.
Dalam situasi ini, krisis energi tak lagi hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal bagaimana dunia mengatur cara menggunakan energi secara lebih efisien.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.