Logo
>

IEA Wanti-wanti Krisis Energi, April Lebih Parah dari Maret

IEA sebut krisis energi global akibat perang Iran makin parah di April, pasokan minyak hilang dua kali lipat dan ancam inflasi dunia.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
IEA Wanti-wanti Krisis Energi, April Lebih Parah dari Maret
IEA peringatkan krisis energi global makin parah April, kehilangan minyak naik dua kali lipat dan berisiko picu inflasi serta perlambatan ekonomi. Foto: Dok. Pertamina

KABARBURSA.COM — Krisis energi global belum menunjukkan tanda mereda. Badan Energi Internasional atau IEA justru memperingatkan tekanan pasokan minyak akan makin dalam pada April, seiring perang Iran yang terus mengguncang jalur distribusi energi dunia.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menilai kondisi saat ini bahkan melampaui krisis energi sebelumnya. Ia menyebut dampaknya bisa lebih luas, mulai dari lonjakan inflasi hingga perlambatan ekonomi di banyak negara. “Bulan depan, April, akan jauh lebih buruk dibandingkan Maret,” kata Birol, dikutip dari Consumer News and Business Channel, Sabtu, 3 April 2026.

Ia menjelaskan, pada Maret pasokan energi masih ditopang oleh kapal-kapal yang sempat melintasi Selat Hormuz sebelum konflik pecah. Pasokan itu kini masih berdatangan ke berbagai pelabuhan.

Namun situasi tersebut tidak akan terulang pada April. “Pada April, tidak ada. Kehilangan minyak pada April akan dua kali lipat dibandingkan Maret,” ujarnya.

Tak hanya minyak, gangguan juga terjadi pada gas alam cair dan komoditas lain yang menjadi bagian penting rantai pasok global. Birol menilai dampaknya akan menjalar cepat ke berbagai sektor.

“Ini akan mendorong inflasi dan saya pikir akan memangkas pertumbuhan ekonomi di banyak negara, terutama negara berkembang. Di banyak negara, pembatasan energi mungkin akan segera terjadi,” katanya.

Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan pasukan AS akan keluar dari Iran dalam dua hingga tiga pekan, Birol menilai kerusakan yang sudah terjadi tidak bisa dianggap ringan.

Menurut dia, krisis kali ini bahkan lebih dalam dibanding krisis minyak pada 1970-an maupun dampak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. “Jika melihat 1973 dan 1979, masing-masing kita kehilangan sekitar 5 juta barel per hari. Krisis itu memicu resesi global di banyak negara,” ujarnya.

Kondisi sekarang dinilai jauh lebih berat. “Hari ini kita kehilangan 12 juta barel per hari, lebih besar dari dua krisis tersebut jika digabungkan,” kata Birol.

Gangguan juga terjadi pada pasokan gas akibat blokade Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sebagian besar energi dunia. Menurut Birol, dampaknya bahkan lebih besar dibanding gangguan pasokan gas Rusia beberapa tahun lalu.

“Krisis saat ini lebih besar dari ketiga peristiwa itu digabungkan. Ditambah lagi ada komoditas penting seperti petrokimia, pupuk, dan sulfur yang sangat krusial bagi rantai pasok global,” ujarnya. “Kita sedang menuju gangguan besar, sangat besar, dan terbesar dalam sejarah.”

Di tengah tekanan tersebut, IEA mempertimbangkan langkah tambahan untuk meredam dampak pasar. Salah satunya dengan kembali melepas cadangan minyak strategis. “Kami menilai pasar setiap hari, bahkan setiap jam. Jika diperlukan, kami bisa mengusulkan pelepasan cadangan tambahan,” kata Birol.

Ia menambahkan, saat ini masalah utama sudah mulai terlihat di pasar, terutama kekurangan bahan bakar pesawat dan diesel. Dampak ini sudah terasa di Asia dan diperkirakan segera menjalar ke Eropa pada April atau awal Mei.

Sebelumnya, negara-negara anggota IEA telah sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Namun langkah ini dinilai hanya bersifat sementara. “Ini hanya membantu mengurangi rasa sakit, bukan menyembuhkan. Solusinya adalah membuka kembali Selat Hormuz,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak menjadi bukti nyata tekanan yang terjadi. Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, harga minyak Brent melonjak lebih dari 60 persen sepanjang Maret, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1980-an.

IEA pun mulai mendorong langkah penghematan energi. Mulai dari menurunkan batas kecepatan kendaraan, mendorong kerja dari rumah, hingga mengurangi penggunaan peralatan berbasis gas. Di tengah situasi ini, pasar global bergerak dalam bayang-bayang krisis yang belum mencapai puncaknya. April disebut-sebut akan menjadi titik ujian berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).