Logo
>

Imbas Konflik di Timur Tengah, Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.868

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Imbas Konflik di Timur Tengah, Rupiah Ditutup Melemah ke Level  Rp16.868
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 81 poin di level Rp16.868 pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Penurunan ini tidak lain disebabkan oleh konflik di Timur Tengah.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

"Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting," ujar dia dalam keterangannya.

Sebelumnya, kata Ibrahim, putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa, tidak memiliki kemajuan berarti.

"Dengan Washington meningkatkan pengerahan militernya di kawasan tersebut. Kemungkinan aksi militer tetap ada," ungkapnya.

Ibrahim menyebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump  tidak senang dengan cara Iran bernegosiasi, terdengar samar tentang apakah mungkin atau tidak akan ada perubahan rezim di negara itu.

Adapun untuk perdagangan besok, Selasa, 3 Maret 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp16.860- Rp16.910.  

Selat Hormuz Titik Cekik Ekonomi Dunia, RI Terancam

Sebelumnya diberitakan, Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi mengingatkan kekuatan utama Iran bukan semata pada militernya, melainkan pada posisi geografis yang mengunci jalur energi dunia.

Iran berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman, tepat di hadapan Selat Hormuz yang selama ini menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas. Bagi pasar energi, kawasan ini adalah penentu stabilitas harga bahan bakar global.

“Karena Hormuz itu bukan sekedar jalur perairan biasa, melainkan titik cekik ekonomi dunia. Selat Hormuz hanya seluas 21 mil, namun hampir 30 persen minyak dunia melewati jalur ini sekitar 20 juta barel per hari, dan ditambah lagi pasokan Liquefied Natural Gas yang menggerakkan Eropa. Artinya bahan bakar untuk mobil, pesawat, pabrik semuanya bergantung pada jalur tersebut,” kata Rahma dalam keterangannya, Ahad 1 Maret 2026.

Sekitar seperlima produksi minyak global melintasi perairan sempit itu. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga yang cepat menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Selain minyak, pasokan LNG ke Eropa juga sangat bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.

Kepadatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb membuat kawasan ini rawan terhadap serangan. Kapal berukuran raksasa bergerak lambat di perairan sempit, sulit bermanuver ketika terjadi ancaman rudal atau drone.

Sejarah menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan di kawasan Teluk. Pada Perang Tanker Iran–Irak dekade 1980-an, harga minyak melonjak sekitar 30 persen. Lonjakan serupa terjadi pada 2019 ketika fasilitas Saudi Aramco diserang dan harga minyak melesat sekitar 20 persen dalam waktu singkat.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan, dan bahwa bahkan serangan terbatas saja dapat memiliki dampak besar pada harga minyak,” ujar Rahma. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.