KABARBURSA.COM – Gejolak ekstrem tidak hanya melanda IHSG. Pasar keuangan Korea Selatan terpaksa mengambil Langkah darurat setelah indeks KOSPI anjlok lebih dari 5 persen dalam satu sesi perdagangan.
Regulator menghentikan seluruh order jual di bursa. Keputusan drastis ini langsung mengundang perhatian dan perdebatan luas di kalangan investor global.
Kejatuhan tajam tersebut membuat likuiditas pasar mengering dalam waktu singkat. Perdagangan saham dan kontrak berjangka praktis membeku dan menciptakan situasi di mana pelaku pasar kehilangan referensi harga dan mekanisme keluar.
Langkah penghentian order jual itu dimaksudkan untuk menahan spiral kepanikan. Namun di saat yang sama, Keputusan ini justru menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas intervensi ekstrem terhadap stabilitas pasar.
Bagi otoritas Korea Selatan, kebijakan ini bukan tanpa dasar. Sistem pengaman pasar atau circuit breaker memang dirancang untuk menghadapi pergerakan harga yang melampaui ambang tertentu. Penurunan lebih dari 5 persen mendorong pasar masuk ke zona berbahaya, di mana aksi jual terprogram, perdagangan berbasis algoritma, dan posisi leverage berpotensi memperdalam kejatuhan dalam waktu sangat singkat.
Dengan menghentikan order jual, regulator berharap dapat memberi jeda bagi pelaku pasar untuk menilai ulang risiko dan meredam keputusan impulsif.
Respons Pasar Terbelah
Namun, respons pasar terbelah. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai upaya melindungi stabilitas dan mencegah kerusakan yang lebih dalam. Di sisi lain, kritik bermunculan karena pembatasan jual dinilai menciptakan stabilitas semu.
Tanpa kehadiran penjual, harga tidak sepenuhnya mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran. Kekhawatiran muncul bahwa intervensi semacam ini justru merusak mekanisme price discovery yang menjadi fondasi pasar modal.
Peristiwa ini juga membuka tabir rapuhnya struktur pasar modern. Ketergantungan pada otomatisasi, algoritma, dan leverage membuat likuiditas bisa menghilang seketika ketika sentimen berbalik.
Dalam kondisi stres, jalur keluar menyempit dan kepercayaan memudar dengan cepat. Penghentian pasar KOSPI menjadi cerminan betapa sensitifnya sistem keuangan terhadap guncangan sentimen, terutama ketika ketidakpastian global sedang tinggi.
Dampaknya tidak berhenti di pasar saham. Di ranah aset digital, langkah Korea Selatan memicu diskusi yang tak kalah panas. Pelaku kripto mulai mempertanyakan apakah bursa aset digital seharusnya menerapkan kebijakan serupa saat terjadi kejatuhan tajam.
Wacana “menghilangkan tombol jual” sempat mencuat, baik sebagai candaan maupun gagasan serius. Di tengah volatilitas kripto yang jauh lebih tinggi dan perdagangan tanpa henti, ide pembatasan jual dianggap sebagian pihak bisa melindungi investor ritel dari likuidasi masif.
Namun, bagi banyak pelaku pasar kripto, kebebasan keluar masuk posisi justru menjadi nilai utama. Pembatasan mendadak dinilai berisiko menggerus kepercayaan lebih dalam.
Langkah Korea Selatan juga berpotensi menjadi preseden global. Regulator di berbagai negara mencermati respons investor pasca-intervensi tersebut. Jika pasar kembali stabil, bukan tidak mungkin kebijakan serupa akan dipertimbangkan di yurisdiksi lain.
Sebaliknya, jika kepercayaan justru terkikis dan premi risiko meningkat, pendekatan agresif ini bisa dievaluasi ulang.
Konteks global turut memperberat situasi. Ketidakpastian arah suku bunga, kondisi likuiditas yang ketat, serta risiko geopolitik membuat pasar berada dalam kondisi rapuh. Dalam situasi seperti ini, batas antara perlindungan dan pembatasan menjadi semakin tipis.
Baik pasar saham tradisional maupun aset kripto menghadapi dilema serupa: bagaimana menjaga stabilitas tanpa merusak kepercayaan jangka panjang.
Pada akhirnya, insiden penghentian pasar KOSPI menegaskan satu hal penting. Stabilitas pasar tidak semata ditentukan oleh tombol atau pembatasan teknis, melainkan oleh kepercayaan terhadap aturan main, transparansi kebijakan, dan kredibilitas institusi.
Intervensi darurat mungkin memberi jeda sesaat, tetapi keberlanjutan pasar hanya bisa terjaga jika pelaku percaya bahwa mekanisme keluar tetap dapat diandalkan, bahkan di tengah krisis.(*)