Logo
>

AADI Bertahan, BUMI Seret IHSG Ke Level 7.922

IHSG anjlok hampir 5 persen di tengah guncangan global, seiring aksi jual komoditas dan sentimen hawkish The Fed yang menyeret bursa Asia kompak melemah.

Ditulis oleh Yunila Wati
AADI Bertahan, BUMI Seret IHSG Ke Level 7.922
Seluruh pasar bursa, baik IHSG maupun Asia, kompak berakhir di zona merah. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Tekanan jual global kembali menghantam pasar keuangan pada awal pekan. Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak luput dari gelombang tersebut. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Senin, 2 Februari 2026, anjlok tajam 406 poin atau setara 4,88 persen ke level 7.922. Pelemahan ini menandai salah satu koreksi harian terdalam dalam beberapa waktu terakhir, seiring merosotnya selera risiko investor di tengah guncangan pasar global.

Tekanan terhadap IHSG berlangsung merata dan disertai aktivitas transaksi yang tetap tinggi. Sepanjang perdagangan, volume mencapai 490,6 juta lot saham dengan nilai transaksi sekitar Rp28,11 triliun. 

Penurunan indeks bukan terjadi dalam kondisi sepi, melainkan diiringi aksi jual aktif yang melibatkan banyak pelaku pasar.

Di dalam indeks LQ45, pergerakan saham terbelah tajam. Sejumlah saham berkarakter defensif dan konsumsi primer masih mampu bertahan dan masuk jajaran top gainers, seperti Adaro Andalan Indonesia (AADI), Unilever Indonesia (UNVR), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Semen Indonesia (SMGR), Indofood Sukses Makmur (INDF), Perusahaan Gas Negara (PGAS), serta Bank Central Asia (BBCA). 

Di sisi lain, tekanan paling berat menimpa saham-saham berbasis komoditas dan siklikal, dengan Merdeka Battery Materials (MBMA), Merdeka Copper Gold (MDKA), Elang Mahkota Teknologi (EMTK), Barito Pacific (BRPT), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bumi Resources (BUMI), dan Surya Citra Media (SCMA) tercatat sebagai top losers.

Secara sektoral, basic industry menjadi pemberat utama IHSG dengan koreksi tajam mencapai 10,74 persen. Saham-saham besar di sektor ini rontok dalam, di antaranya BRPT yang anjlok 14,81 persen, IMPC turun 14,71 persen, TKIM melemah 9,59 persen, dan TPIA terkoreksi 8,53 persen. 

Pelemahan juga menjalar ke saham lain seperti AMRT yang turun 1,16 persen dan INTP yang melemah 0,75 persen, mencerminkan tekanan luas yang tidak terbatas pada satu subsektor saja.

Pasar Komoditas Tertekan Gelombang Aksi Jual

Sentimen negatif di pasar domestik sejalan dengan gejolak yang terjadi di pasar global, terutama di komoditas. Pada perdagangan Senin waktu setempat, pasar komoditas dunia merosot tajam, dipimpin oleh kejatuhan besar pada emas, perak, minyak, dan logam industri. 

Emas spot jatuh sekitar 9 persen ke level terendahnya dalam lebih dari dua minggu, sementara perak anjlok lebih dari 13 persen. Bahkan, penurunan emas pada Jumat waktu setempat, atau Sabtu, 31 Januari 2026, tercatat sebagai yang terdalam dalam satu hari sejak 1983, dengan perak mencatat kejatuhan harian terbesar sepanjang sejarah hingga 27 persen.

Gelombang aksi jual ini dipicu oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Penunjukan Kevin Warsh, mantan gubernur Federal Reserve, sebagai calon ketua The Fed menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang, memicu reaksi keras pasar. 

Investor menilai Warsh sebagai figur yang lebih hawkish, terutama karena sikap kritisnya terhadap neraca The Fed yang terlalu besar. Persepsi ini mendorong antisipasi pengetatan kebijakan, termasuk pengurangan neraca, yang langsung menekan aset berisiko.

“Keputusan pasar untuk menjual logam mulia bersamaan dengan ekuitas AS menunjukkan bahwa investor memandang Warsh sebagai sosok yang lebih hawkish,” ujar Vivek Dhar, ahli strategi komoditas di Commonwealth Bank of Australia. 

Menurutnya, penguatan dolar AS yang menyertai perubahan ekspektasi kebijakan tersebut semakin memperberat tekanan pada logam mulia, minyak, dan logam dasar, meski ia tetap mempertahankan proyeksi harga emas di level USD6.000 per ounce pada kuartal keempat.

Tekanan di komoditas juga diperparah oleh faktor teknis. CME Group menaikkan persyaratan margin pada kontrak berjangka logam yang mulai berlaku setelah penutupan pasar hari ini. Kenaikan margin ini mendorong penutupan posisi spekulatif, mengurangi likuiditas, dan mempercepat aksi jual yang sudah berlangsung sejak Jumat.

Di pasar energi, harga minyak turut berada di bawah tekanan. Tanda-tanda deeskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, setelah pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Iran “serius berbicara” dengan Washington, meredakan kekhawatiran konflik dengan anggota OPEC tersebut. 

Meredanya risiko geopolitik ini justru menekan harga minyak di tengah sentimen global yang sudah rapuh.

Pasar Asia Kompak Melemah

Bursa saham Asia bergerak serempak di zona merah mengikuti kejatuhan Wall Street dan gejolak komoditas. Indeks Kospi Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam di kawasan dengan penurunan 5,26 persen ke level 4.949. 

Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,25 persen ke 52.655 dan Topix melemah 0,85 persen ke 3.536. Pasar China juga tertekan, dengan Shanghai Composite turun 2,48 persen, Shenzhen Component melemah 2,69 persen, dan CSI300 terkoreksi 2,13 persen. Hang Seng Hong Kong turun 2,23 persen, Taiex Taiwan melemah 1,37 persen, dan ASX200 Australia turun 1,02 persen.

Di pasar valuta Asia, pergerakan mata uang cenderung mencerminkan penguatan dolar AS. Yen Jepang melemah tipis 0,11 persen ke 154,95 per dolar AS, dolar Singapura turun 0,07 persen, dan dolar Australia melemah 0,19 persen. 

Rupiah juga ikut tertekan, melemah 0,07 persen ke level 16.798 per dolar AS. Di sisi lain, rupee India justru menguat 0,56 persen, yuan China naik 0,08 persen, sementara ringgit Malaysia dan baht Thailand melemah.

Secara keseluruhan, penutupan IHSG yang jatuh tajam mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan internal. Guncangan dari pasar global, terutama kejatuhan komoditas dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS, memicu aksi jual luas di Asia dan Indonesia. 

Dalam kondisi seperti ini, pasar terlihat kembali melakukan penyesuaian risiko secara agresif, dengan saham-saham defensif relatif lebih bertahan, sementara sektor berbasis komoditas dan siklikal menjadi korban utama arus keluar dana.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79