KABARBURSA.COM – SGMC Capital menyatakan tidak melihat alasan yang realistis bagi bursa saham Indonesia untuk diturunkan statusnya ke kategori frontier market. Penilaian tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran pasar terkait potensi penurunan klasifikasi Indonesia dalam metodologi indeks global.
Pendiri dan Chief Investment Officer SGMC Capital Mohit Mirpuri mengatakan bahwa risiko penurunan status pasar Indonesia tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi maupun skala pasar saham domestik. Menurutnya, Indonesia tetap memiliki posisi yang kuat di kawasan maupun global.
“Tidak ada risiko realistis Indonesia diturunkan ke status frontier market,” ujar Mirpuri dalam wawancara yang dipublikasikan Bloomberg, dikutip Senin, 2 Februari 2026.
Mirpuri menegaskan bahwa diskusi terkait potensi penyesuaian status pasar lebih berkaitan dengan metodologi indeks, bukan penilaian terhadap kondisi negara secara keseluruhan. Ia menilai faktor-faktor struktural ekonomi Indonesia tetap solid.
“Ini soal metodologi indeks. Ini bukan penilaian terhadap negara,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia dan memiliki bobot yang signifikan di pasar modal regional. Indonesia tercatat sebagai ekonomi anggota G20 serta pasar ekuitas terbesar di Asia Tenggara berdasarkan kapitalisasi pasar.
“Kita harus ingat, ini adalah ekonomi G20. Ini pasar ekuitas terbesar di ASEAN dan salah satu dari 20 pasar terbesar di dunia berdasarkan kapasitas pasar,” ujar Mirpuri.
Dalam wawancara tersebut, Mirpuri juga menyampaikan bahwa SGMC Capital tidak berencana mengurangi eksposur investasinya terhadap Indonesia. Ia menilai daya tarik pasar saham Indonesia masih terjaga di tengah volatilitas global.
“Saya pasti akan tetap mempertahankan eksposur saya terhadap Indonesia,” ujarnya.
SGMC Capital juga menyoroti aktivitas perdagangan pasar saham Indonesia sebagai indikator penting. Mirpuri menyebut bahwa volume perdagangan saham Indonesia sepanjang tahun lalu tercatat lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara tetangga di kawasan.
“Volume perdagangan pasar saham Indonesia tahun lalu bahkan mengungguli Singapura, Malaysia, dan Vietnam,” kata Mirpuri.
Menurutnya, tingginya likuiditas dan aktivitas perdagangan tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa penurunan status pasar Indonesia tidak relevan. Ia menilai klasifikasi frontier market umumnya dilekatkan pada pasar dengan likuiditas rendah dan risiko tinggi, yang tidak mencerminkan kondisi Indonesia saat ini.
“Karena itu, tidak ada alasan Indonesia akan turun ke level frontier market atau pasar berkapitalisasi rendah dan berisiko tinggi,” ujarnya.
Sebagai informasi, SGMC Capital merupakan perusahaan manajemen aset dan penasihat portofolio independen yang berbasis di Singapura. Perusahaan ini berfokus pada pengelolaan investasi bagi klien institusional dan individu di kawasan Asia dan Eropa. (*)