KABARBURSA.COM – Kelompok produsen minyak OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi tanpa perubahan pada Maret, meski harga minyak mentah global bergerak mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Dilansir dari Reuters, keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terkait potensi eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pernyataan yang dirilis Minggu, 1 Februari 2026, OPEC+ menyampaikan bahwa keputusan tersebut dihasilkan dari pertemuan singkat delapan negara anggota, yakni Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman.
Harga minyak berjangka Brent tercatat ditutup mendekati USD70 per barel pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026. Level tersebut berada tidak jauh dari posisi tertinggi enam bulan di USD71,89 per barel yang sempat disentuh sehari sebelumnya.
Kenaikan harga terjadi meskipun pasar masih memperkirakan potensi kelebihan pasokan minyak global pada 2026, yang dinilai dapat memberikan tekanan terhadap harga dalam jangka menengah. Sentimen pasokan ke depan tetap menjadi perhatian pelaku pasar energi.
Delapan negara yang terlibat dalam pertemuan sebelumnya telah menaikkan kuota produksi secara bertahap sekitar 2,9 juta barel per hari sepanjang April hingga Desember 2025, atau setara sekitar 3 persen dari total permintaan minyak dunia.
Namun, pada November lalu, OPEC+ memutuskan untuk membekukan rencana kenaikan output lanjutan untuk periode Januari hingga Maret 2026 dengan alasan melemahnya konsumsi musiman.
Keputusan pembekuan tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan Minggu, setelah sebelumnya dikonfirmasi untuk bulan Januari dan Februari. Pernyataan terbaru OPEC+ tidak memuat panduan kebijakan produksi untuk periode setelah Maret.
Menurut Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, absennya arahan lanjutan menjadi sinyal penting bagi pasar energi.
“Dengan meningkatnya ketidakpastian terkait Iran dan ketegangan dengan Amerika Serikat, OPEC+ memilih untuk tetap menjaga fleksibilitas kebijakan,” ujarnya.
Leon menambahkan bahwa proyeksi internal OPEC menunjukkan kebutuhan pasar terhadap minyak OPEC+ berpotensi menurun pada kuartal II, sehingga ruang untuk peningkatan produksi menjadi lebih terbatas.
Secara keseluruhan, OPEC+ yang mencakup Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak serta Rusia dan negara sekutunya menyumbang sekitar separuh dari total produksi minyak dunia. Pada hari yang sama, Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC) OPEC+ juga menggelar pertemuan dan menekankan pentingnya kepatuhan penuh terhadap kesepakatan produksi yang telah ditetapkan.
Dari sisi geopolitik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi kebijakan terhadap Iran, termasuk kemungkinan tindakan terbatas terhadap aparat keamanan dan elite negara tersebut. Pemerintah Amerika Serikat juga telah memberlakukan sanksi ketat untuk menekan pendapatan minyak Iran.
Meski demikian, baik Amerika Serikat maupun Iran belakangan menyatakan kesiapan untuk membuka dialog, dengan catatan Teheran menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya tidak dapat dijadikan bagian dari negosiasi.
Harga minyak juga mendapat dukungan tambahan dari gangguan pasokan di Kazakhstan dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah Kazakhstan menyatakan telah mulai mengaktifkan kembali ladang minyak raksasa Tengiz secara bertahap.
OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan berikutnya pada 1 Maret, sementara JMMC akan kembali bertemu pada 5 April. (*)