KABARBURSA.COM - Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah pada perdagangan besok, Selasa, 3 Februari 2026 bergerak melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.790- Rp16.830," ujar dia dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026.
Adapun pada perdagangan 2 Februari 2026, mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 12 poin ke level Rp16.798. Menurut Ibrahim, terdapat beberapa sentimen yang mempengaruhi pemelemahan mata uang rupiah.
Pertama, mengenai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menominasikan mantan gubernur The Fed, Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk menggantikan ketua petahana Jerome Powell di pucuk pimpinan bank sentral.
"Warsh sebagian besar dianggap setuju dengan seruan Trump untuk menurunkan suku bunga secara tajam. Namun, ia juga dipandang kritis terhadap aktivitas pembelian aset Fed, yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter jangka panjang di bawah Warsh mungkin tidak selunak yang diantisipasi pasar pada awalnya," jelas Ibrahim.
Namun, kata Ibrahim, Warsh mungkin akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat Fed untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga dan kemungkinan akan mendukung lebih banyak penurunan suku bunga jika dikonfirmasi dalam beberapa bulan mendatang.
Di Asia, sentimen datang dari Perdana Menteri Jepang, Takaichi yang membicarakan manfaat mata uang yang lebih lemah selama pidato kampanye baru-baru ini. Ibrahim menilai hal ini agak kontras dengan sinyal dari pemerintahannya yang memperingatkan terhadap pelemahan mata uang yang berkepanjangan.
"Takaichi mengatakan yen yang lebih lemah menguntungkan eksportir, meskipun ia kemudian terlihat melunakkan pendiriannya. Sejumlah pejabat Jepang, termasuk Takaichi sendiri, telah memperingatkan pasar terhadap pergerakan yen yang berlebihan, memicu kekhawatiran bahwa intervensi pemerintah akan segera terjadi," ungkapnya. (*)