KABARBURSA.COM - Indonesia dan Rusia telah mencapai kesepakatan untuk memperkuat kerja sama di bidang ekonomi dan investasi strategis.
Hal tersebut terjadi setelah pemerintah Indonesia dan Federasi Rusia melaksanakan Pertemuan ke-7 Working Group on Trade, Investment, and Industry (WGTII) RI-Rusia pada Kamis, 9 April 2026.
Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara di tengah dinamika ekonomi global, termasuk meningkatnya proteksionisme dan disrupsi perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi optimis kerja sama dengan Federasi Rusia ini bakal membuka potensi besar yang belum digarap dengan maksimal.
"Guna meningkatkan kerja sama perdagangan yang berkontribusi pada pertumbuhan berkelanjutan dan saling menguntungkan," ujar dia dalam keterangannya , Jumat, 10 April 2026.
Momentum peringatan 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia pada tahun 2026 ini juga dapat menjadi peluang untuk semakin memperdalam kolaborasi melalui penguatan kerja sama yang lebih luas dan terstruktur.
Edi menyampaikan bahwa kedua negara perlu mendorong percepatan implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) serta peningkatan kerja sama di sektor-sektor prioritas, termasuk perdagangan, industri, investasi, ketahanan pangan, dan ekonomi kreatif.
Sementara itu Deputi Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia, Vladimir Illichev menyampaikan pentingnya implementasi hasil-hasil dari pertemuan sebelumnya, termasuk penandatanganan I-EAEU FTA.
Disoroti pula terkait perkembangan kerja sama strategis antara kedua pihak, seperti sektor halal dan konektivitas logistik antara Surabaya dan Vladivostok sejak tahun 2023, serta berharap forum ini dapat menghasilkan langkah konkret menjelang pertemuan lanjutan di Kazan, Federasi Rusia pada Mei mendatang.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Jose Tavares turut menyoroti bahwa liberalisasi lebih dari 90 persen tarif melalui Indonesia–EAEU FTA menjadi langkah penting di tengah tren global terkait proteksionisme.
Tavares mencatat bahwa nilai perdagangan bilateral telah mencapai hampir USD5 miliar pada 2025, namun masih terdapat ruang besar untuk peningkatan melalui diversifikasi perdagangan, penguatan kerja sama industri, serta identifikasi proyek-proyek investasi potensial.
“Kita perlu mendorong keterlibatan yang lebih erat antara komunitas bisnis untuk memperkuat hubungan perdagangan dan investasi,” ungkap Tavares. (*)