Logo
>

Inflasi AS Naik 3,8 Persen, Peluang The Fed Pangkas Suku Bunga Menyusut

Lonjakan harga energi dan pangan membuat pasar kembali meragukan peluang pemangkasan suku bunga AS dalam waktu dekat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Inflasi AS Naik 3,8 Persen, Peluang The Fed Pangkas Suku Bunga Menyusut
Ilustrasi: Warga berbelanja bahan makanan di sebuah supermarket di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Kenaikan harga pangan dan energi kembali menjadi pendorong utama inflasi AS yang naik ke level 3,8 persen pada April 2026. Foto: EPA.

KABARBURSA.COM — Harapan pasar terhadap penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi tekanan setelah data inflasi terbaru menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari ekspektasi. Consumer Price Index (CPI) AS pada April 2026 tercatat naik 0,6 persen secara bulanan (month to month) dan 3,8 persen secara tahunan (year on year). Angka ini meningkat dibanding inflasi tahunan Maret yang berada di level 3,3 persen.  

Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan harga di ekonomi terbesar dunia ini masih belum benar-benar mereda. Bahkan, laju inflasi April 2026 menjadi salah satu kenaikan bulanan tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, meski sebelumnya pasar berharap tren disinflasi mulai terbentuk.

Dalam laporan resminya, Bureau of Labor Statistics (BLS) menyebut lonjakan harga energi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan lalu.

“Indeks energi naik 3,8 persen pada April dan menyumbang lebih dari 40 persen terhadap kenaikan bulanan seluruh komponen inflasi,” tulis BLS dalam laporan Consumer Price Index April yang dirilis Selasa, 12 Mei 2026 WIB.

Tekanan harga energi tersebut terutama dipicu kenaikan harga bensin yang melonjak 5,4 persen hanya dalam satu bulan. Secara tahunan, harga bensin bahkan sudah naik 28,4 persen.  

Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik geopolitik global dan gangguan pasokan energi mulai kembali menerjemahkan dirinya ke dalam inflasi domestik AS. Situasi menjadi sensitif karena kenaikan energi berpotensi menciptakan efek rambatan ke berbagai sektor lain, mulai dari logistik, manufaktur, hingga harga pangan.

Tekanan juga mulai terlihat pada biaya tempat tinggal atau shelter yang kembali naik 0,6 persen pada April. Komponen ini selama ini menjadi perhatian utama Federal Reserve karena mencerminkan tekanan biaya hidup yang lebih “lengket” dan sulit turun cepat.  

Di sisi pangan, inflasi juga belum benar-benar jinak. Indeks makanan naik 0,5 persen dalam sebulan. Harga daging sapi melonjak 2,7 persen, sementara buah dan sayuran naik 1,8 persen. Bahkan harga tomat secara tahunan melonjak hampir 40 persen.  

BLS mencatat kenaikan harga pangan terjadi hampir di seluruh kelompok utama bahan makanan. “Lima dari enam kelompok utama bahan makanan di toko grosir mengalami kenaikan pada April,” tulis lembaga tersebut.  

Meski demikian, inflasi inti atau core inflation—yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan—masih berada di level 2,8 persen secara tahunan. Namun angka itu juga naik dibanding bulan sebelumnya sebesar 2,6 persen.  

Bagi pasar keuangan global, data ini menjadi penting karena dapat mengubah ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed. Sebelumnya, investor mulai berharap bank sentral AS akan membuka ruang pemangkasan suku bunga pada semester II 2026. Namun kenaikan CPI April membuat skenario tersebut kembali dipertanyakan.

Pasar kini mulai melihat bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi memastikan inflasi benar-benar kembali menuju target 2 persen. Situasi ini berpotensi memberi tekanan tambahan bagi emerging markets, termasuk Indonesia. Ketika suku bunga AS bertahan tinggi, arus modal asing cenderung tetap parkir di aset dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil menarik.

Efek rambatnya mulai terasa pada nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di atas Rp17.500 per dolar AS. Tekanan terhadap IHSG juga meningkat dalam beberapa pekan terakhir bersamaan dengan aksi jual asing di saham-saham big banks.

Bila inflasi AS terus bertahan tinggi, ruang pelonggaran moneter global berpotensi semakin sempit. Bank sentral negara berkembang akan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar atau mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).