Logo
>

KEK Palu Dibidik Investasi BESS Rp30 Triliun, Hilirisasi Nikel Kian Dipercepat

Proyek Battery Energy Storage System (BESS) dan LNG Hub di KEK Palu diproyeksikan memperkuat rantai pasok baterai nasional sekaligus membuka ribuan lapangan kerja baru di Sulawesi Tengah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
KEK Palu Dibidik Investasi BESS Rp30 Triliun, Hilirisasi Nikel Kian Dipercepat
Suasana kawasan Pelabuhan Pantoloan yang terhubung langsung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu di Sulawesi Tengah. Konektivitas logistik dan kedekatan dengan sumber daya nikel dinilai menjadi daya tarik utama pengembangan industri hilirisasi dan energi bersih di kawasan tersebut. Foto: Dok. DN KEK.

KABARBURSA.COM — Kawasan Ekonomi Khusus atau KEKnPalu kembali menunjukkan daya tariknya sebagai pusat investasi strategis di Indonesia Timur. Didukung cadangan nikel dan berbagai komoditas tambang lain, kawasan ini dinilai memiliki posisi penting dalam pengembangan industri hilirisasi serta energi masa depan. Lokasinya yang terintegrasi langsung dengan Pelabuhan Pantoloan turut memperkuat daya tarik KEK Palu karena mempermudah jalur logistik dan perdagangan.

Sinyal masuknya investasi baru mulai terlihat melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pengembangan proyek Battery Energy Storage System (BESS) antara PT Bangun Palu Sulawesi Tengah dan Aslan Energy Capital—perusahaan infrastuktur energi yang berkantor pusat di Singapura—di Hotel Four Seasons Jakarta, Senin, 11 Mei 2026. Kesepakatan ini membuka peluang baru bagi kebangkitan aktivitas industri dan investasi di kawasan tersebut.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menyebut pemerintah optimistis investasi baru di sektor energi dan teknologi penyimpanan energi akan memperkuat daya saing KEK Palu.

“Pemerintah optimistis masuknya investasi baru, khususnya di sektor energi dan teknologi penyimpanan energi, akan semakin meningkatkan daya saing KEK Palu serta menciptakan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional,” ujar Edwin.

Kerja sama tersebut menjadi langkah awal pengembangan BESS Gigafactory sekaligus ekosistem industri energi bersih di KEK Palu. Proyek ini diarahkan untuk mendukung pengembangan industri baterai berbasis nikel dan memperkuat rantai pasok kendaraan listrik serta energi bersih nasional.

Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai sekitar USD1,75 miliar (Rp29,57 triliun) dan akan dikembangkan secara bertahap. Pada tahap awal, fasilitas ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 8 GWh per tahun, sebelum ditingkatkan menjadi 12 hingga 15 GWh pada fase ekspansi selanjutnya.

Selain memproduksi sistem penyimpanan energi skala besar, proyek ini juga diproyeksikan menopang integrasi energi terbarukan, infrastruktur pengisian kendaraan listrik, hingga pasar ekspor ke kawasan ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat. Di luar fasilitas baterai, proyek tersebut juga mencakup pengembangan LNG Hub.

Pengembangan BESS Gigafactory diperkirakan menyerap sekitar 1.300 tenaga kerja langsung dan lebih dari 3.000 tenaga kerja tidak langsung melalui rantai pasok industri dan sektor pendukung lainnya. Investasi ini diharapkan memperkuat posisi KEK Palu sebagai pusat hilirisasi berbasis energi bersih di Indonesia Timur sekaligus mengoptimalkan potensi nikel Sulawesi Tengah dalam rantai pasok baterai global.

Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menilai proyek tersebut memiliki dampak ekonomi yang besar bagi daerah. “Investasi ini sangat penting khususnya bagi Kota Palu karena akan membawa multiplier effect yang besar. Dari sisi pemerintah, dampaknya tentu pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pertumbuhan ekonomi Kota Palu ke depan,” katanya.

KEK Palu sendiri merupakan kawasan industri seluas 1.500 hektare di Sulawesi Tengah yang difokuskan untuk pengembangan industri berbasis sumber daya alam, logistik, manufaktur, serta hilirisasi energi. Dukungan konektivitas dengan Pelabuhan Pantoloan membuat kawasan ini dipandang strategis untuk perdagangan domestik maupun ekspor di wilayah Indonesia Timur.

CEO Aslan Energy Capital, Muthu Chezian, mengatakan pihaknya telah mempelajari KEK Palu cukup lama sebelum memutuskan berinvestasi. Menurut dia, salah satu daya tarik utama adalah ketersediaan sumber daya alam serta kebijakan hilirisasi nikel Indonesia.

“Kami juga melihat potensi besar untuk mendukung data center. Saat ini banyak pusat data mulai beralih dari sistem UPS tradisional menuju penggunaan BESS karena dapat meningkatkan standar pusat data dari tier 2 menjadi tier 3 atau bahkan tier 4,” ujar Muthu.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bangun Palu Sulawesi Tengah selaku Badan Pembangun dan Pengelola KEK Palu, Sony Panukma Widianto, menyatakan pihaknya siap mendukung kebutuhan lahan industri sekitar 40 hektare guna mempercepat pembangunan gigafactory.

“Kami siap menyediakan dukungan infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan agar ekosistem industri ini dapat berkembang secara optimal,” tegas Sony.

Pemerintah berharap kerja sama tersebut dapat segera masuk tahap realisasi. Dewan Nasional KEK juga memastikan akan terus mengawal percepatan implementasi investasi di KEK Palu agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi kawasan dan nasional.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).