KABARBURSA.COM — Lonjakan konsumsi bahan bakar saat mudik Lebaran kembali jadi ujian tahunan bagi ketahanan energi nasional. Di tengah tekanan pasokan global yang masih fluktuatif, PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan sejumlah langkah operasional untuk menjaga distribusi tetap aman.
Salah satu yang diandalkan adalah penerapan sistem Block Mode di Kilang Cilacap, yang mulai dijalankan sejak Mei 2024. Skema ini diklaim memberi fleksibilitas dalam pengolahan minyak mentah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu sumber impor.
Direktur Operasi Kilang Pertamina Patra Niaga Didik Bahagia menyebut inovasi tersebut sebagai bagian dari adaptasi operasional di tengah dinamika pasokan energi.
“Inovasi ini merupakan cara kilang yang dikelola oleh PPN untuk terus beradaptasi dengan kondisi pasokan minyak mentah serta memastikan kilang tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa, 17 Maret 2026.
Menurut Didik, perubahan pola operasi ini tidak hanya menyasar efisiensi, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan operasional kilang. Dengan sistem yang lebih fleksibel, kilang dinilai mampu merespons perubahan pasokan minyak mentah tanpa tergantung pada satu sumber tertentu.
Di sisi lain, Pertamina juga menilai pendekatan ini bisa menekan biaya produksi sekaligus mengurangi risiko gangguan distribusi energi. Diversifikasi pasokan menjadi salah satu strategi untuk meredam tekanan dari pasar global yang masih belum stabil.
Menjelang arus mudik Lebaran 2026, perusahaan memastikan operasional kilang berjalan penuh selama 24 jam. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan BBM seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
“Inovasi Block Mode menjadi bukti nyata bahwa PPN mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan pasar. Menjelang mudik Lebaran 2026, masyarakat dapat lebih tenang karena pasokan BBM berada dalam kendali yang kuat,” kata Didik.
Selain Block Mode, Pertamina juga mengoptimalkan metode pengolahan cocktail crude, yakni pencampuran berbagai jenis minyak mentah untuk meningkatkan efisiensi kilang.
Didik menyebut kedua pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk menjaga ketahanan energi nasional, terutama di tengah ketidakpastian pasokan global.
“Cocktail crude dan Block Mode pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yaitu memperkuat ketahanan energi Indonesia. PPN bangga dapat berada di garis depan inovasi ini,” katanya.
Lonjakan BBM dan Peran Kilang Cilacap
Kebutuhan bahan bakar minyak nasional terus menunjukkan tren meningkat seiring pulihnya mobilitas masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi BBM tercatat naik dari sekitar 94 ribu kiloliter per hari pada 2022 menjadi sekitar 106 ribu kiloliter per hari pada 2024.
Kenaikan ini menjadi baseline penting untuk membaca potensi lonjakan saat periode mudik Lebaran. Pada 2026, konsumsi bensin diproyeksikan meningkat sekitar 12 persen, sementara LPG naik sekitar 4 persen dan avtur sekitar 2,8 persen.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan tetap terjadi, meski tidak setinggi periode ekstrem sebelumnya. Pada mudik 2022 misalnya, konsumsi BBM sempat melonjak hingga 41 persen dibandingkan kondisi normal.
Perbedaan ini mencerminkan bahwa lonjakan konsumsi sangat dipengaruhi oleh tingkat mobilitas masyarakat dan kebijakan pembatasan logistik. Dalam beberapa kasus, konsumsi solar justru menurun saat mudik karena pembatasan operasional kendaraan angkutan barang.
Di sisi pasokan, peran kilang domestik menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Kilang Cilacap, yang menjadi lokasi penerapan sistem Block Mode, memiliki kapasitas sekitar 348 ribu barel per hari.
Dengan total kapasitas kilang nasional yang berada di kisaran 1 juta barel per hari, kilang ini menyumbang sekitar 30 hingga 35 persen dari total kapasitas pengolahan minyak di dalam negeri. Kontribusi tersebut menjadikan Kilang Cilacap sebagai salah satu tulang punggung pasokan BBM nasional, terutama untuk wilayah Jawa yang memiliki tingkat konsumsi tertinggi.
Artinya, setiap perubahan atau inovasi operasional di kilang ini tidak hanya berdampak pada efisiensi internal, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi secara nasional.
Dalam konteks lonjakan konsumsi saat mudik, kapasitas dan fleksibilitas produksi kilang menjadi faktor kunci. Kenaikan permintaan yang terjadi dalam waktu singkat membutuhkan sistem produksi yang mampu merespons cepat tanpa mengganggu distribusi.
Di titik inilah, efektivitas inovasi seperti Block Mode akan diuji, apakah mampu menahan tekanan lonjakan konsumsi yang setiap tahun selalu berulang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.