Logo
>

Iran-AS Memanas, Guru Besar Unair: Selat Hormuz Titik Cekik Ekonomi Dunia, RI Terancam

Gangguan jalur energi global picu lonjakan harga minyak, tekan rupiah, dan berpotensi membebani subsidi serta inflasi domestik.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Iran-AS Memanas, Guru Besar Unair: Selat Hormuz Titik Cekik Ekonomi Dunia, RI Terancam
Konflik Iran-AS mengancam Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari dan berisiko memicu inflasi serta tekanan APBN Indonesia. Foto: Getty Images

KABARBURSA.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya memanaskan peta politik Timur Tengah, tetapi juga membuka ancaman langsung terhadap urat nadi ekonomi global. Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengingatkan kekuatan utama Iran bukan semata pada militernya, melainkan pada posisi geografis yang mengunci jalur energi dunia.

Iran berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman, tepat di hadapan Selat Hormuz yang selama ini menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas. Bagi pasar energi, kawasan ini adalah penentu stabilitas harga bahan bakar global.

“Karena Hormuz itu bukan sekedar jalur perairan biasa, melainkan titik cekik ekonomi dunia. Selat Hormuz hanya seluas 21 mil, namun hampir 30 persen minyak dunia melewati jalur ini sekitar 20 juta barel per hari, dan ditambah lagi pasokan Liquefied Natural Gas yang menggerakkan Eropa. Artinya bahan bakar untuk mobil, pesawat, pabrik semuanya bergantung pada jalur tersebut,” kata Rahma dalam keterangannya, Ahad 1 Maret 2026.

Sekitar seperlima produksi minyak global melintasi perairan sempit itu. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga yang cepat menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Selain minyak, pasokan LNG ke Eropa juga sangat bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.

Kepadatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb membuat kawasan ini rawan terhadap serangan. Kapal berukuran raksasa bergerak lambat di perairan sempit, sulit bermanuver ketika terjadi ancaman rudal atau drone.

Sejarah menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan di kawasan Teluk. Pada Perang Tanker Iran–Irak dekade 1980-an, harga minyak melonjak sekitar 30 persen. Lonjakan serupa terjadi pada 2019 ketika fasilitas Saudi Aramco diserang dan harga minyak melesat sekitar 20 persen dalam waktu singkat.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan, dan bahwa bahkan serangan terbatas saja dapat memiliki dampak besar pada harga minyak,” ujar Rahma.

Selain Hormuz, Bab el-Mandeb disebut sebagai titik tekanan kedua. Jalur ini mengontrol akses menuju Laut Merah dan Terusan Suez yang menjadi penghubung utama perdagangan Asia dan Eropa. Sekitar 12 persen perdagangan global melintasi kanal tersebut.

Jika jalur itu terganggu, kapal harus memutar mengelilingi Afrika. Waktu pengiriman bertambah berminggu-minggu dan biaya logistik melonjak. Hampir sepertiga perdagangan kontainer dunia melewati rute ini. Gangguan keamanan pada 2023 bahkan sempat memangkas lalu lintas pelayaran hingga mendekati 70 persen.

“Sekarang bayangkan jika keduanya tertutup bersamaan, harga minyak akan melonjak tajam, inflasi pasti meningkat, perdagangan global melambat,” katanya.

Tekanan ke Rupiah dan APBN

Bagi Indonesia, dampaknya tidak berhenti pada kenaikan harga energi. Lonjakan harga minyak global akan memperbesar beban subsidi bahan bakar dan listrik. Pemerintah berpotensi harus mengalihkan anggaran pembangunan ke perlindungan sosial.

Nilai tukar rupiah juga berisiko tertekan lebih dalam dan disebut dapat mendekati Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Ketergantungan industri pada bahan baku impor akan mempercepat transmisi inflasi ke dalam negeri..Di sisi keamanan, instabilitas Timur Tengah berpotensi menghidupkan kembali jaringan radikal transnasional. Sentimen anti-Barat dapat dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan sel tidur di Asia Tenggara.

Rahma menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi agar tidak terlalu bergantung pada impor minyak. Diversifikasi energi baru dan terbarukan menjadi langkah yang harus dipercepat untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak global.

Diplomasi aktif dengan negara-negara Timur Tengah dan organisasi internasional juga dinilai penting untuk mendorong penyelesaian damai. Selain itu, penguatan keamanan siber dan intelijen diperlukan untuk mengantisipasi dampak non-militer dari konflik. “Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini sangat kompleks dan tidak stabil,” ujarnya.

Konflik Panjang yang Memuncak

Permusuhan antara Teheran dan Washington bukanlah peristiwa baru. Sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Mohammad Reza Pahlavi, hubungan kedua negara dipenuhi kecurigaan. Amerika Serikat pernah mendukung monarki yang tumbang, sementara Republik Islam Iran menolak dominasi Barat di kawasan.

Ketegangan semakin dalam setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi pada 2018. Iran dituduh mengembangkan senjata nuklir meski sejumlah lembaga intelijen internasional menyatakan program tersebut tidak dilanjutkan.

Dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata yang menjadi musuh Israel memperpanjang rantai konflik di kawasan. Serangan militer selama 12 hari pada Juni 2025 terhadap fasilitas Iran menunjukkan betapa dalam perseteruan itu.

Melansir Reuters, eskalasi terbaru terjadi pada 28 Februari 2026 ketika operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dan memicu gelombang ketegangan baru di kawasan.

Dalam situasi seperti ini, posisi geografis Iran kembali menjadi faktor yang membuat konflik regional berpotensi menjalar menjadi guncangan ekonomi global. Bagi negara seperti Indonesia, dampaknya bukan lagi sekadar isu geopolitik jauh di sana, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas dalam negeri. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".