KABARBURSA.COM - Iran menyatakan Selat Hormuz terbuka untuk semua pelayaran. Namun hal ini tidak berlaku bagi kapal-kapal yang menganggap Iran sebagai musuh.
Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Iran untuk badan maritim PBB pada Minggu, 21 Maret 2026. Pernyataan ini disampaikan setelah sehari sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik Iran jika jalur air tersebut tidak sepenuhnya dibuka dalam waktu 48 jam.
Diketahui, perang antara Iran dan AS-Israel telah menghalangi sebagian besar kapal untuk melewati Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Kondisi ini pun mengancam terjadinya guncangan energi global.
Perwakilan Iran untuk badan maritim PBB, Ali Mousavi mengatakan Teheran siap bekerja sama dengan Organisasi Maritim Internasional untuk meningkatkan keselamatan maritim dan pelaut di Teluk.
"Diplomasi tetap menjadi prioritas Iran. Namun, penghentian agresi sepenuhnya serta saling percaya dan keyakinan jauh lebih penting," kata Mousavi dikutip dari Reuters, Senin, 23 Maret 2026.
Beberapa waktu lalu diberitakan, Trump meminta sejumlah negara ikut membantu mengamankan Selat Hormuz setelah konflik dengan Iran memicu lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Trump mengaku telah meminta sekitar setengah lusin negara mengirim kapal perang guna membuka kembali jalur pelayaran bagi kapal tanker minyak yang melintas di kawasan tersebut.
“Kami sangat mendorong negara-negara lain yang ekonominya jauh lebih bergantung pada selat itu dibandingkan kami. Kami ingin mereka datang membantu kami menjaga selat tersebut,” kata Trump di Gedung Putih, dikutip dari AP, Selasa, 17 Maret 2026.
Trump menyebut sejumlah negara yang diharapkan ikut terlibat, antara lain Jepang, China, Korea Selatan serta beberapa negara di Eropa. Ia menilai Amerika Serikat sebenarnya tidak terlalu bergantung pada jalur itu karena memiliki pasokan minyak sendiri. (*)