Logo
>

Kabar dari Selat Hormuz Bikin Tegang, Harga Minyak Meroket Dua Persen

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen setelah insiden kapal kargo di dekat Selat Hormuz memicu kembali kekhawatiran gangguan pasokan energi dan memudarkan optimisme perdamaian Iran-AS.

Ditulis oleh Yunila Wati
Kabar dari Selat Hormuz Bikin Tegang, Harga Minyak Meroket Dua Persen
Kontrak Brent ditutup di atas USD75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD72 per barel. (Foto: Pexels/Jan Zakelj)

KABARBURSA.COM - Baru sehari lalu lintas Selat Hormuz berjalan normal, kekhawatiran Kembali muncul. Ada laporan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil saat melintas di dekat Oman. Kabar ini langsung mengubah persepsi pasar dan memunculkan kekhawatiran besar.

Dalam laporan tersebut dikatakan, Organisasi Maritim Internasional (IMO) akhirnya menghentikan sementara proses pengawalan kapal yang melewati jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak dunia itu. 

Pasar minyak memang sangat sensitif terhadap setiap ancaman di Selat Hormuz. Sebabm seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman itu. 

Jadi, gangguan sekecil apa pun berpotensi menghambat distribusi jutaan barel minyak setiap hari dan memicu kenaikan harga secara cepat.

Akibatnya, harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen hanya dalam satu sesi perdagangan. Kontrak Brent kembali ditutup di atas USD75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD72 per barel. 

Dalam laporan lainnya, pejabat Amerika Serikat menyebut kapal tersebut ditembaki ketika berusaha melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, otoritas Iran menegaska tidak dapat menjamin keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi.

Pernyataan-pernyataan inilah yang kemudian membuka kekhawatiran, bahwa situasi di kawasan itu belum benar-benar stabil. Walaupun perang terbuka mulai mereda, potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi global masih sangat tinggi.

Produksi Terancam Berkurang

Kekhawatiran itu diperkuat oleh analisis sejumlah lembaga riset energi. Menurut Rystad Energy, pemulihan distribusi minyak belum berjalan sepenuhnya normal. Tingkat penyimpanan minyak di kawasan Teluk masih berada jauh di bawah kapasitas optimal. 

Apabila lalu lintas kapal tanker kembali terganggu dalam waktu lama, produsen berpotensi mengurangi produksi karena keterbatasan fasilitas penyimpanan.

Di saat yang sama, Amerika Serikat berupaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Marco Rubio melakukan serangkaian pembicaraan dengan negara-negara Teluk untuk memastikan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran tetap menjamin kebebasan pelayaran internasional.

Washington menyampaikan bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur perdagangan internasional yang bebas dilalui tanpa pungutan maupun pembatasan. Namun, di sisi lain muncul wacana mengenai kemungkinan penerapan biaya layanan keamanan bagi kapal-kapal yang melintas.

Ketidakpastian ini menjadi bahan bakar kenaikan harga minyak.

Brent dan WTI Mulai Oversold

Selain faktor geopolitik, reli harga minyak juga diperkuat oleh faktor teknikal. Selama beberapa hari sebelumnya, harga Brent dan WTI mengalami penurunan tajam hingga masuk ke wilayah oversold. Kondisi tersebut memancing aksi beli spekulatif dari investor yang menilai harga sudah terlalu murah.

Fenomena short covering juga ikut mempercepat kenaikan. Investor yang sebelumnya memasang posisi jual terpaksa menutup transaksinya ketika harga mulai berbalik naik. Proses ini otomatis menambah tekanan beli dan membuat penguatan harga berlangsung lebih cepat daripada biasanya.

Dengan kata lain, reli minyak kali ini merupakan kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik dan perubahan posisi investor di pasar berjangka.

Gempa Bumi di Caracas, Venezuela

Di luar Timur Tengah, perhatian pelaku pasar juga tertuju ke Venezuela. Gempa bumi besar yang mengguncang Caracas memunculkan kekhawatiran baru terhadap prospek produksi minyak negara tersebut. 

Venezuela sebelumnya diperkirakan mampu meningkatkan ekspor minyak setelah perubahan kebijakan Amerika Serikat. Namun kerusakan infrastruktur akibat bencana berpotensi menghambat proses pemulihan produksi.

Meski kontribusi Venezuela tidak sebesar negara-negara Teluk, tambahan gangguan pasokan dari kawasan Amerika Selatan tetap menjadi faktor yang diperhitungkan investor ketika pasar sedang sensitif terhadap isu pasokan global.

Arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz. Jika jalur pelayaran kembali beroperasi normal tanpa insiden lanjutan, kenaikan harga kemungkinan akan mulai mereda. 

Sebaliknya, apabila muncul gangguan baru atau ketegangan kembali meningkat, pasar berpotensi kembali memasukkan premi risiko yang lebih besar ke dalam harga minyak.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79