KABARBURSA.COM - Wall Street mengakhiri perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat, atau Jumat dinihari, 26 Juni 2026, dengan variative. indeks Dow Jones mampu menutup perdagangan dengan kenaikan tipis, namun Nasdaq kehilangan tenaga setelah aksi jual kembali menghantam saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
Optimisme terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kembali memasuki fase yang selektif. Pasar mulai bertanya, siapa yang akan menanggung biaya investasi yang terus membengkak?
Dow Jones Industrial Average berhasil menguat tipis menjadi 51.920,62. Sementara itu, S&P 500 nyaris tidak bergerak dan berakhir di level 7.357,49. Nasdaq Composite justru terkoreksi hampir setengah persen menjadi 25.358,60.
Di awal sesi, sektor teknologi sebenarnya sempat bergerak positif. Laporan keuangan Micron Technology yang jauh melampaui ekspektasi analis membawa optimisme bahwa permintaan AI masih kuat. Namun euforianya tidak bertahan lama.
Pasar mulai menghitung Kembali konsekuensinya. Perusahaan-perusahaan berskala besar seperti Apple, Microsoft, Alphabet, hingga Nvidia, yang sedang berlomba dalam pengembangan modal AI, mengumumkan investasi miliaran dolar AS. Semakin besar nilai investasi, semakin besar pula pertanyaan mengenai apakah akan mendapatkan keuntungan yang sebanding.
Kekhawatiran tersebut akhirnya memicu aksi ambil untung pada saham-saham teknologi terbesar.
Apple Anjlok Enam Persen
Apple menjadi korban paling besar setelah anjlok lebih dari 6 persen. Koreksi disebabkan naiknya harga iPad dan MacBook lantaran naiknya biaya komponen memori dan media penyimpanan. Pasar khawatir, tekanan biaya akan menggerus daya beli konsumen sekaligus margin keuntungan.
Pun dengan Microsoft, Nvidia, hingga Alphabet. Karena bobot perusahaan-perusahaan tersebut sangat dominan di Nasdaq, pelemahan langsung menyeret indeks teknologi itu ke zona merah meskipun sebagian besar saham semikonduktor justru menikmati reli yang sangat kuat.
Micron Technology, misalnya, melonjak hampir 16 persen setelah membukukan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi. Perusahaan juga memberikan proyeksi pendapatan yang lebih optimistis.
Sandisk melesat lebih dari 22 persen, begitu pula dengan Applied Materials, Qualcomm, Western Digital, dan Seagate Technology yang ikut menikmati kenaikan tajam.
Investor sebenarnya belum meninggalkan tema AI. Hanya saja, pasar mulai membedakan perusahaan yang memperoleh manfaat langsung dari ledakan permintaan perangkat keras dengan perusahaan yang justru harus mengeluarkan belanja modal sangat besar untuk membangun ekosistem AI.
Tekanan Inflasi AS Meningkat
Di luar sektor teknologi, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan ekonomi sekaligus meningkatnya tekanan inflasi.
Inflasi Mei tercatat kembali menembus level 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Pada saat yang sama, revisi pertumbuhan produk domestik bruto kuartal pertama menunjukkan ekonomi AS tumbuh 2,1 persen,
Klaim tunjangan pengangguran mingguan juga turun lebih besar dari perkiraan.
Indikator ini memberi petunjuk bahwa ekonomi AS mulai melemah signifika, apalagi tekanan harga belum berakhir. Ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi masih terbuka.
Harga Minyak Bergerak Turun
Walau begitu, melemahnya ekonomi AS tidak membuat panik pasar. Alasannya, harga minyak dunia mulai bergerak turun usai ketegangan geopolitik di Timur Tengah reda. Penurunan ini memberi harapan bahwa tekanan inflasi dapat kembali melandai dalam beberapa bulan mendatang, sehingga risiko kenaikan inflasi masih dapat dikendalikan.
Di luar tema AI dan inflasi, sektor korporasi juga diwarnai aksi akuisisi besar. Bio-Techne menjadi sorotan setelah perusahaan farmasi asal Jerman, Merck KGaA, menyepakati pembelian perusahaan senilai USD11,3 miliar.
Kabar ini mendorong saham Bio-Techne melonjak lebih dari 20 persen.
Secara keseluruhan, perdagangan kali ini memperlihatkan bahwa pasar saham Amerika masih berada dalam fase rotasi, bukan pembalikan tren. Investor belum benar-benar keluar dari aset berisiko, tetapi mulai memindahkan dana menuju sektor-sektor yang dinilai memiliki valuasi lebih menarik serta prospek keuntungan yang lebih jelas.(*)