KABARBURSA.COM - Setelah beberapa hari tertekan, pasar emas kembali bergeliat. Sempat terseret ke bawah level psikologis USD4.000 per ons, harga emas global menutup perdagangan di zona hijau.
Emas spot naik 0,8 persen menjadi USD4.032,74 per, setelah di awal sesi sempat merosot hingga 1 persen. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup menguat sekitar 1 persen ke posisi USD4.047,60 per ons.
Penggerak utama naiknya harga emas adalah perubahan persepsi pasar arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) memperlihatkan inflasi PCE tahunan naik menjadi 4,1 persen, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kenaikan ini berada di bawah ekspektasi analis, sehingga sebagian investor mulai mengurangi posisi pada dolar. Indeks dolar AS berbalik melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ikut mengalami penurunan.
Pelemahan ini sangat menguntungkan bagi emas.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, emas sempat menembus ke bawah level USD4.000 per ons. Koreksi ini belum pernah terjadi sejak akhir 2025. Penurunan tajam tersebut dipicu perkiraan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Namun, kini kondisinya berbeda. Meski demikian, reli kali ini lebih tepat disebut sebagai pemulihan daripada awal tren kenaikan baru. Sebab, tekanan fundamental terhadap emas belum benar-benar hilang.
Inflasi Amerika masih berada jauh di atas target bank sentral, sementara kondisi ekonomi Negeri Paman Sam juga masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Selama dua faktor tersebut bertahan, Federal Reserve diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Artinya, setiap penguatan emas masih berpotensi menghadapi aksi ambil untung apabila muncul data ekonomi yang kembali memperkuat peluang kenaikan suku bunga.
Selat Hormuz dan Harga Minyak
Di sisi lain, kondisi geopolitik dunia juga mulai memberikan pengaruh yang lebih seimbang terhadap pasar emas. Setelah beberapa hari sebelumnya harga minyak turun seiring membaiknya situasi di Timur Tengah, kini muncul kembali ketidakpastian akibat insiden di Selat Hormuz yang mendorong minyak kembali menguat.
Bagi emas, perkembangan tersebut menghadirkan dua dampak yang saling berlawanan. Ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun jika kenaikan harga minyak kembali memicu inflasi yang lebih tinggi, peluang pengetatan kebijakan moneter juga akan meningkat, yang pada akhirnya dapat membatasi kenaikan logam mulia.
Karena itu, pasar kini berada dalam posisi yang cukup sensitif. Investor harus menimbang dua kekuatan yang saling bertolak belakang, yaitu meningkatnya kebutuhan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global dan risiko suku bunga tinggi yang masih membayangi.
Harga Logam Mulia Naik
Tidak hanya emas yang menikmati sentimen positif tersebut. Logam mulia lainnya juga bergerak menguat dengan kenaikan yang bahkan lebih besar.
Harga perak spot melompat 1,7 persen menjadi USD58,38 per ons. Platinum menguat 1,8 persen ke USD1.606,61 per ons, sementara paladium mencatat kenaikan 1,9 persen jadi USD1.188,19 per ons.
Perak mencatat penguatan paling impresif setelah mendapat dukungan dari prospek permintaan industri yang masih solid. Platinum dan paladium juga melanjutkan penguatan seiring optimisme terhadap sektor otomotif dan manufaktur global yang mulai menunjukkan perbaikan.
Kenaikan serentak kelompok logam mulia ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya kembali masuk ke aset lindung nilai, tetapi juga mulai melirik komoditas yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas industri.
Pasar emas memang naik, tapi belum sepenuhnya keluar dari fase ketidakpastian. Yang berubah hanyalah arah sentimen jangka pendek. Investor mulai melihat peluang pemulihan, tetapi tetap berhati-hati karena faktor utama yang menggerakkan harga masih belum memberikan kepastian.(*)