KABARBURSA.COM - Setelah beberapa hari mendominasi pasar global, dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu AS. Pelemahan dipicu naiknya data inflasi AS secara signifikan.
Indeks Dolar AS turun 0,19 persen menjadi 101,41. Penurunan ini berpotensi menjadi pelemahan harian terbesar dalam dua pekan terakhir.
Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik 4,1 persen secara tahunan pada Mei. Angka ini tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral AS akan bersikap agresif.
Selama tiga sesi sebelumnya, dolar AS menikmati reli karena pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin besar. Akan tetapi, setelah data inflasi diumumkan, sebagian pelaku pasar mulai menilai bahwa ruang itu tidak sebesar yang diperkirakan.
Perubahan ekspektasi itu terlihat jelas pada FedWatch Tool CME Group. Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya lebih dari 34 persen. Peluang kenaikan pada September juga ikut menurun.
Penurunan ini penting, karena selama ini pergerakan dolar sangat dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap suku bunga. Ketika peluang kenaikan bunga berkurang, daya tarik menurun. Akibatnya, indeks melemah dan memberikan ruang bagi mata uang lain untuk bangkit.
Nilai Tukar Rupiah Hari ini Diprediksi Naik
Euro dan poundsterling menguat. Euro menguat 0,16 persen ke level USD1,1375 terhadap dolar AS.
Di Asia, rupiah ikut terdongkrak. Bagi Indonesia, pelemahan dolar datang pada waktu yang tepat. Selain memperoleh dorongan dari faktor eksternal, rupiah juga mendapat tambahan sentimen positif dari membaiknya kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Kembalinya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi perkembangan yang sangat diperhatikan pelaku pasar. Selat tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Kini situasinya mulai berubah. Arus kapal tanker kembali berjalan, meskipun proses normalisasi diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa pekan. Berkurangnya risiko gangguan pasokan membuat harga minyak dunia terus mengalami koreksi.
Bagi Indonesia, yang masih menjadi negara pengimpor minyak, pelemahan harga energi menjadi kabar baik. Tekanan terhadap neraca perdagangan berkurang, kebutuhan devisa untuk impor energi lebih terkendali, sementara risiko inflasi domestik juga ikut menurun. Inilah yang memperkuat fundamental rupiah.
Sentimen positif juga diperkuat oleh langkah pemerintah yang dalam beberapa tahun terakhir memperluas sumber impor minyak dari kawasan Afrika. Diversifikasi pasokan membuat ketergantungan terhadap Timur Tengah semakin kecil, dan dampak terhadap ekonomi nasional melemah.
Meski demikian, bukan berarti risiko telah sepenuhnya hilang.
Data ekonomi Amerika Serikat masih memperlihatkan ketahanan yang cukup kuat. Revisi pertumbuhan produk domestik bruto kuartal pertama naik menjadi 2,1 persen, sementara klaim tunjangan pengangguran justru turun lebih besar dari perkiraan.
Artinya, Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi apabila tekanan inflasi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Dengan kata lain, pelemahan dolar kali ini lebih merupakan penyesuaian ekspektasi pasar daripada perubahan total arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Karena itu, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh setiap rilis data ekonomi AS berikutnya. Selama inflasi menunjukkan tren yang lebih terkendali dan harga minyak tetap stabil, peluang rupiah melanjutkan penguatan masih cukup terbuka.
Dari sisi domestik, stabilitas nilai tukar juga akan sangat bergantung pada kemampuan Bank Indonesia menjaga kepercayaan pasar, arus masuk modal asing, serta kesinambungan surplus neraca perdagangan.
Rupiah Bergerak di Rentang Rp17.940 hingga Rp17.990
Untuk perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih tersedia seiring pelemahan indeks dolar yang berpotensi berlanjut. Kisaran pergerakannya di area Rp17.940 hingga Rp17.990.
Bagi pelaku pasar, kondisi ini menjadi pengingat bahwa arah nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh besarnya angka inflasi atau pertumbuhan ekonomi semata. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana data tersebut mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan bank sentral.(*)