KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah 80 poin ke level Rp17.092 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 9 April 2026. Pelemahan ini dikarenakan berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah (Timteng)
Pengamat ekonomi, mata uang & komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan ketengangan geopolitik di Timur Tengah masih terjadi ditandai dengan masih terganggunya Selat Hormuz.
Ibrahim menyebut sebagian besar selat yang merupakan jalur penting dengan bawaan sekitar seperlima pasokan minyak global itu tetap terblokir meskipun ada gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.
Diketahui beberapa waktu lalu Presiden AS, Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan. Hal ini pun memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan.
"Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses, menurut laporan," ujar dia dalam keterangannya.
Menurut Ibrahim, sentimen pasar semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh.
"Laporan menunjukkan bahwa jalur kapal tanker melalui selat dihentikan setelah serangan tersebut, meskipun pejabat AS memberi sinyal tanda-tanda awal pembukaan kembali sebagian," jelasnya.
Sentimen juga datang dari Federal Open Market Committee (FOMC). Ibrahim menyebut para pejabat The Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.
"Para pembuat kebijakan menyatakan bahwa mereka perlu tetap "gesit" saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir," terang dia.
Adapun untuk perdagangan Jumat, 10 April 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.090- Rp17.140. (*)