Logo
>

Kiwoom Ingatkan Risiko Shock Energi Jika Harga Minyak Tembus USD100

Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah dinilai berpotensi menekan inflasi, rupiah, hingga IHSG jika Brent menembus USD100 per barel.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Kiwoom Ingatkan Risiko Shock Energi Jika Harga Minyak Tembus USD100
Kiwoom memperingatkan risiko shock energi jika harga minyak Brent tembus USD100 per barel, berpotensi menekan inflasi, rupiah, dan IHSG. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mengguncang pasar keuangan global dan menyeret Bursa Efek Indonesia ikut bergejolak. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia yang langsung memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi energi dan tekanan terhadap ekonomi negara pengimpor seperti Indonesia.

Pada perdagangan Selasa, 4 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 4,81 persen atau terkoreksi 381 poin ke level 7.557. Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kecemasan pasar terhadap lonjakan harga minyak akibat konflik di kawasan Timur Tengah dan diikuti perubahanoutlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Fitch Ratings.

Dalam analisis terbarunya, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai risiko utama saat ini bukan sekadar volatilitas pasar, melainkan kemungkinan terjadinya shock energi jika konflik berkembang lebih jauh.

“Selama harga minyak masih di bawah USD90, dampaknya ke pasar biasanya masih berupa volatilitas sentimen. Namun jika Brent menembus USD100 disertai gangguan distribusi fisik, risiko bisa berubah menjadi shock energi yang berpotensi menekan inflasi, rupiah, dan IHSG secara lebih luas,” tulis Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya yang dirilis Rabu, 4 Maret 2026.

Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia yang menjadi salah satu pusat distribusi energi dunia.

Ancaman di Selat Hormuz

Konflik terbaru di Timur Tengah membuat pasar kembali menyoroti Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak global. Setiap gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia karena sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk harus melewati perairan tersebut.

Harga minyak global sudah mulai bereaksi terhadap perkembangan konflik. Minyak Brent tercatat melonjak sekitar 13 persen menjadi USD81.83 per barel dibandingkan posisi sebelum eskalasi konflik pada 27 Februari. Lonjakan harga ini menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya kewaspadaan investor terhadap pasar energi.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki implikasi langsung terhadap fiskal dan stabilitas ekonomi. Sebagai negara net oil importer, Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan harga energi global. Kiwoom memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel dapat menambah beban anggaran negara sekitar Rp10,3 triliun.

Sementara tambahan penerimaan negara dari sektor energi diperkirakan hanya sekitar Rp3,6 triliun. Artinya, secara bersih terdapat potensi tekanan sekitar Rp6,7 triliun terhadap APBN untuk setiap kenaikan USD1 harga minyak dunia. Selain itu, ketahanan energi nasional juga menjadi perhatian. Kiwoom memperkirakan cadangan bahan bakar minyak Indonesia saat ini hanya cukup untuk sekitar 20 hari.

Jika konflik berlangsung lebih lama dan distribusi minyak global terganggu, Indonesia kemungkinan harus membeli energi dengan harga yang lebih mahal dibandingkan sebelum konflik.

Sektor Saham yang Berpotensi Bergerak

Kenaikan harga energi tidak berdampak sama terhadap seluruh sektor pasar saham. Dalam analisisnya, Kiwoom melihat sektor energi berpotensi mendapat sentimen positif jika harga komoditas global terus meningkat. Emiten minyak dan gas seperti APEX, ENRG, ELSA, dan MEDC dinilai dapat memperoleh dorongan kinerja dari lonjakan harga energi.

Selain itu, sektor batu bara juga berpotensi diuntungkan karena kenaikan harga energi biasanya ikut memperkuat harga komoditas sumber daya alam. Saham seperti AADI, ADRO, ITMG, dan PTBA disebut berpotensi mendapat sentimen positif dari kondisi tersebut.

Namun sejumlah sektor lain justru menghadapi risiko tekanan. Transportasi dan logistik menjadi sektor yang paling rentan karena bahan bakar merupakan komponen besar dalam biaya operasional. Kenaikan harga energi juga dapat meningkatkan biaya produksi sektor manufaktur dan pada akhirnya menekan margin perusahaan. Jika lonjakan energi memicu inflasi, dampaknya juga bisa merambat ke sektor konsumer melalui pelemahan daya beli masyarakat.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).