KABARBURSA.COM - Amerika Serikat (AS) dan Iran mengancam bakal meningkatkan perang dengan menyerang fasilitas listrik dan energi. Hal ini pun berpotensi memperluasan konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, pada Sabtu, 21 Maret 2026, Presiden AS, Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Sehari setelahnya, kubu Iran mengatakan bahwa mereka akan menyerang infrastruktur AS serta fasilitas energi dan desalinasi di Teluk jika Trump melaksanakan ancamannya.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di media sosial X bahwa infrastruktur penting dan fasilitas energi di Timur Tengah dapat "hancur secara permanen" jika pembangkit listrik Iran diserang.
"Ancaman Presiden Trump kini telah menempatkan bom waktu 48 jam yang menimbulkan ketidakpastian tinggi di pasar," kata analis pasar IG, Tony Sycamore, yang memperkirakan pasar saham akan jatuh pada hari Senin karena pasokan energi tetap terbatas.
Diketahui, Selat Hormuz tetap terbuka untuk semua pelayaran kecuali kapal-kapal yang terkait dengan "musuh-musuh Iran", demikian pernyataan perwakilan negara itu di Organisasi Maritim Internasional yang dikutip dalam laporan media Iran.
Adapun harga minyak melonjak pada hari Jumat, 20 Maret 2026 mengakhiri hari di level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Irak menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada semua ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan asing.
Harga juga dipengaruhi oleh serangan Israel terhadap ladang gas utama di Iran, dan Teheran menanggapi dengan serangan terhadap negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait.
Serangan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur sempit yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, menyebabkan krisis minyak terburuk sejak tahun 1970-an. Hampir tertutupnya selat tersebut membuat harga gas di Eropa melonjak hingga 35 persen pekan lalu.
Harga Minyak Dunia Diramal Melonjak
Harga minyak mentah dunia diprediksi akan kembali melonjak pada pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah WTI pekan depan berpotensi menyentuh level USD93,3 per barel dan berpotensi menembus USD107,1 per barel.
Sementara itu, Ibrahim memperkirakan minyak mentah Brent akan menembus harga USD110 per barel dan bahkan bisa mencapai USD116 per barel.
Menurutnya, penguatan tersebut tidak lepas dari masih memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serika-Isarel dan Iran
"kenapa? karena Iran salah satu negara penghasil Brent crude oil ya untuk bahan bakar abtur," ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 22 Maret 2026.
Ibrahim menyampaikan lonjakan harga minyak, khususnya Brent, telah mendorong peningkatan biaya transportasi udara, yang pada akhirnya berpotensi memicu tekanan inflasi global.
Di sisi lain, serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah serta konflik yang juga melibatkan Rusia di sektor gas Ukraina turut memperkuat ekspetasi bahwa harga energi akan tetap tinggi dalam waktu lebih panjang.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat bank sentral global cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga yang tinggi guna meredam tekanan inflasi. (*)