KABARBURSA.COM — Target pemerintah mendorong produksi minyak nasional hingga 1 juta barrel per hari mulai memunculkan peluang baru bagi perusahaan jasa energi. Salah satu yang diperkirakan berada di jalur keuntungan dari lonjakan aktivitas eksplorasi itu adalah PT Elnusa Tbk atau ELSA.
Perusahaan jasa hulu migas milik grup Pertamina tersebut dinilai berpotensi menikmati peningkatan proyek ketika aktivitas pengeboran dan eksplorasi semakin digencarkan. Riset Stockbit Sekuritas menyebut agenda besar pemerintah di sektor energi bisa menjadi katalis penting bagi kinerja Elnusa dalam beberapa tahun ke depan.
“Target pemerintah Indonesia untuk mencapai produksi 1 juta barrel minyak per hari berpotensi menjadi katalis positif bagi ELSA karena target tersebut akan mendorong peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengembangan di sektor hulu migas,” tulis Stockbit dalam risetnya yang dirilis Kamis, 5 Maret 2026.
Kegiatan eksplorasi dan pengembangan itu merupakan inti bisnis Elnusa. Perseroan bergerak di berbagai layanan hulu migas mulai dari survei seismik, jasa pengeboran, hingga perawatan sumur minyak. Ketika proyek eksplorasi meningkat, perusahaan jasa seperti Elnusa biasanya ikut menikmati lonjakan kontrak.
“Segmen upstream ELSA yang menyediakan jasa seismik, pengeboran, dan perawatan sumur berpotensi memperoleh tambahan proyek dari peningkatan aktivitas eksplorasi tersebut,” tulis Stockbit.
Sinyal awal dari peluang itu mulai terlihat dari nilai kontrak yang berhasil dibukukan perusahaan. Pada sembilan bulan pertama 2025, segmen hulu Elnusa membukukan kontrak baru sebesar Rp2,9 triliun. Nilai backlog kontraknya melonjak tajam menjadi Rp9,9 triliun dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp4,4 triliun.
Lonjakan backlog ini memberi gambaran bahwa aktivitas proyek di sektor hulu migas mulai menggeliat kembali setelah sempat melambat beberapa tahun terakhir.
Laba 2025 Tumbuh Tipis di Tengah Kenaikan Beban
Di sisi kinerja keuangan, Elnusa mencatatkan laba bersih Rp192 miliar pada kuartal keempat 2025. Angka itu tumbuh sekitar 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan tambahan tersebut, laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp719 miliar. Secara tahunan pertumbuhannya relatif tipis, sekitar 1 persen dibandingkan 2024.
Pertumbuhan yang moderat ini terjadi karena beban operasional meningkat cukup tajam. Opex perusahaan tercatat naik sekitar 14 persen secara tahunan, terutama akibat kenaikan beban gaji yang mencapai 13 persen. Selain itu, kinerja 2024 juga memiliki basis yang cukup tinggi karena adanya transaksi satu kali berupa pendapatan bunga sekitar Rp69 miliar dari penyelesaian sengketa dengan Bank Mega.
Jika faktor tersebut dikesampingkan, pertumbuhan laba inti Elnusa sebenarnya lebih kuat. Stockbit memperkirakan core profit perusahaan pada 2025 naik sekitar 11,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Margin laba bersih perusahaan pun relatif stabil di kisaran 5 persen.
Downstream Masih Jadi Mesin Pendapatan
Pendapatan Elnusa sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp14,4 triliun. Angka ini naik sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal keempat saja, pendapatan perusahaan mencapai sekitar Rp4 triliun. Secara tahunan tumbuh 7 persen dan secara kuartalan naik sekitar 14 persen.
Kontributor terbesar masih datang dari segmen downstream yang bergerak di bidang distribusi energi dan logistik. Segmen ini menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan perusahaan.
Pendapatan downstream melonjak sekitar 28 persen secara tahunan menjadi Rp8,6 triliun. Kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan volume penyaluran bahan bakar yang naik sekitar 29 persen.
Namun peningkatan volume tersebut juga diikuti tekanan margin. Margin laba kotor segmen downstream turun menjadi sekitar 7,7 persen dari sebelumnya 9 persen pada 2024.
Di sisi lain, pendapatan segmen upstream atau hulu migas justru mengalami penurunan pada 2025. Pada kuartal keempat 2025 pendapatan segmen ini tercatat Rp934 miliar atau turun sekitar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya..Secara tahunan pendapatan upstream turun sekitar 18 persen menjadi Rp4,1 triliun.
Meski begitu, profitabilitas segmen ini justru membaik. Margin laba kotor upstream meningkat menjadi sekitar 11,8 persen dibandingkan 8,9 persen pada tahun sebelumnya. Stockbit menilai kondisi ini menunjukkan bahwa potensi bisnis hulu Elnusa masih besar ketika aktivitas eksplorasi kembali meningkat.
Perubahan strategi perusahaan juga terlihat dari arah belanja modal atau capex. Komposisi investasi Elnusa mulai bergeser semakin besar ke segmen upstream. Pada 2025, capex untuk segmen hulu diperkirakan mencapai sekitar 45 persen dari total belanja modal perusahaan. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang berada di sekitar 37 persen dan 2023 yang hanya sekitar 27 persen.
Pergeseran investasi ini mencerminkan fokus perusahaan untuk memperkuat kapasitas bisnis jasa hulu migas. Apalagi hampir seluruh aset di segmen ini telah mencapai tingkat utilisasi mendekati 100 persen sejak 2024. Dengan kondisi tersebut, perusahaan membutuhkan tambahan investasi agar dapat menangkap peluang proyek baru.
Outlook 2026 Mulai Menguat
Dengan backlog kontrak yang meningkat dan prospek eksplorasi yang lebih aktif, Elnusa memperkirakan kinerja tahun depan akan lebih baik. Perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 10 persen pada 2026. Sementara laba bersih diperkirakan dapat tumbuh sekitar 8 hingga 10 persen.
Kinerja segmen upstream diperkirakan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut. Terutama dari kontrak baru yang diperoleh pada akhir 2025 dan awal 2026.
Di tengah dorongan pemerintah mengejar produksi 1 juta barrel per hari, perusahaan jasa energi seperti Elnusa kini berada di posisi strategis. Ketika aktivitas eksplorasi meningkat, kontrak jasa hulu migas biasanya ikut mengalir.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.