Logo
>

Mengapa Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000 per USD pada Akhir Mei?

Tekanan geopolitik di Selat Hormuz, arus modal keluar akibat MSCI, hingga lonjakan harga minyak dinilai menjadi kombinasi berbahaya bagi rupiah dan fiskal Indonesia.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Mengapa Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000 per USD pada Akhir Mei?
Rupiah berisiko tembus Rp18.000 per USD akibat konflik Timur Tengah, outflow MSCI, dan lonjakan harga minyak global yang menekan fiskal RI. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi ujian terberatnya di tahun 2026. Kombinasi maut antara inflasi Amerika Serikat yang membandel, eksodus modal asing akibat rebalancing indeks MSCI, hingga ketegangan geopolitik yang ekstrem di Selat Hormuz, menciptakan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot tajam hingga menembus level psikologis Rp17.600 pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2025, meski pada penutupan perdagangan menunjukkan mata uang Garuda turun ke Rp17.476.

Namun, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperingatkan bahwa ini bukanlah titik terendah. Dalam analisis terbarunya, ia memproyeksikan rupiah berisiko melaju hingga level Rp18.000 per dolar AS pada akhir Mei 2026.

Faktor eksternal utama datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang memasuki fase baru yang sangat berbahaya. Berbeda dengan konflik sebelumnya, Ibrahim menyoroti terjadinya “perang instalasi" antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Iran. UEA, yang kini telah keluar dari keanggotaan OPEC di bawah pengaruh AS, dilaporkan melakukan serangan terhadap fasilitas minyak Iran, yang kemudian memicu serangan balasan serupa.

"Blokade di Selat Hormuz membuat transportasi LPG, gas alam, maupun minyak mentah terhambat total hingga 20 persen. Ini membuat harga minyak mentah dunia mendidih, di mana WTI bertahan di atas USD 101 dan Brent di posisi USD 107 per barel," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu, 13 Mei 2026.

Ketegangan ini diprediksi tidak akan mereda dalam waktu singkat, mengingat intelijen AS melaporkan kekuatan persenjataan Iran yang masih sangat signifikan untuk melakukan perang jangka panjang.

Secara domestik, kenaikan harga minyak dunia adalah racun bagi fiskal Indonesia. Dengan asumsi makro APBN yang mematok dolar di Rp16.500, pemerintah kini menghadapi lubang anggaran yang sangat besar. Indonesia harus mengimpor setidaknya 1,5 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Setiap pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS memberikan beban tambahan sekitar Rp4 triliun pada kas negara. Dengan selisih kurs yang kini mencapai lebih dari Rp1.000 dari asumsi APBN, kebutuhan dolar untuk impor energi melonjak tajam di saat ketersediaan pasokan dolar di pasar domestik sangat terbatas.

Sentimen MSCI dan Musim Dividen

Tekanan terhadap rupiah semakin diperparah oleh dinamika pasar modal. Pengumuman rebalancing indeks MSCI periode Mei 2026 mencatat keluarnya sejumlah saham raksasa (big cap) dari Indonesia, termasuk Barito Renewables (BREN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Langkah ini memicu aliran modal keluar (capital outflow)  masif karena manajer investasi global harus menyesuaikan portofolio mereka. Di saat yang sama, bulan Mei merupakan musim pembagian dividen di mana banyak perusahaan harus mengonversi rupiah ke dolar untuk dikirim ke investor asing, yang secara otomatis meningkatkan permintaan dolar AS secara signifikan.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen pada kuartal pertama, Ibrahim memperingatkan bahwa sektor manufaktur mulai mengalami kontraksi. Indeks PMI Manufaktur April 2026 turun ke level 49,1 dari 50,1 pada bulan Maret 2026. Angka ini menunjukkan kontraksi (di bawah 50,0) pertama dalam sembilan bulan terakhir dan menandai posisi terendah sejak Juli 2025.

"Dampak manufaktur kontraksi ini nyata. Jika Mei masih berlanjut, kita akan melihat gelombang PHK massal di bulan ketiga karena biaya transportasi dan energi yang melambung tinggi," kata Ibrahim.

Bank Indonesia telah melakukan intervensi masif di pasar domestik maupun internasional. Namun, dengan posisi harga minyak yang terus melonjak dan sentimen negatif dari pasar global, tantangan untuk menjaga rupiah agar tidak menembus Rp18.000 menjadi misi yang sangat berat bagi otoritas moneter dan fiskal Indonesia di penghujung Mei ini.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).