KABARBURSA.COM – Perbaikan profitabilitas PT Astra International Tbk (ASII) pada kuartal terakhir 2025 memberi sinyal awal bahwa strategi efisiensi mulai berdampak di tengah tekanan sektor otomotif dan normalisasi harga komoditas. Dalam riset yang dirilis Kiwoom Sekuritas, Head of Research Liza Camelia Suryanata bersama Equity Analyst Miftahul Khaer menyoroti kenaikan margin sebagai indikator utama membaiknya kualitas laba perseroan secara kuartalan.
Gross profit margin ASII tercatat naik menjadi 24,1 persen pada kuartal IV 2025, meningkat 2,5 poin persentase dibanding kuartal sebelumnya. Operating profit margin juga menguat ke level 12,9 persen atau naik 1,5 poin persentase secara kuartalan. Perbaikan tersebut terjadi di tengah pendapatan kuartalan yang masih mengalami kontraksi 1,2 persen secara kuartalan dan turun 2,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp79,8 triliun.
Liza dan Miftahul menilai kenaikan margin mencerminkan kombinasi efisiensi biaya dan bauran bisnis yang lebih sehat. “Perbaikan margin di 4Q25 memberi sinyal adanya efisiensi dan bauran bisnis yang lebih sehat,” catat mereka dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Februari 2026.
Dari sisi laba, ASII membukukan laba bersih Rp8,3 triliun pada kuartal IV 2025. Secara tahunan angka ini tumbuh 3,1 persen, meski masih turun 7,4 persen dibanding kuartal sebelumnya. Menurut Kiwoom, daya tahan bottom line tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan dari sektor siklikal mulai bisa dikelola melalui diversifikasi bisnis dan disiplin biaya.
Segmen jasa keuangan yang naik 6,5 persen menjadi salah satu penopang utama perbaikan kuartalan, sementara agribisnis tetap memberikan kontribusi kuat secara tahunan sebesar 31,4 persen meski mengalami normalisasi volume secara kuartalan. “Artinya, downside risiko terlihat relatif terbatas selama segmen Financial Services dan Agribusiness mampu menjaga stabilitas kontribusi laba,” tulis Liza dan Miftahul.
Di tengah perlambatan konsumsi domestik dan koreksi harga batu bara sepanjang 2025, perbaikan margin ini menjadi faktor penting yang menjaga kualitas fundamental ASII. Kiwoom menilai kemampuan menjaga profitabilitas di fase siklus menurun mempertegas karakter defensif ASII sebagai emiten berbasis konglomerasi terdiversifikasi.
Dengan dividend yield sekitar 4,3 persen, saham ASII dinilai masih menarik bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas kinerja dan aliran pendapatan, sembari menunggu pemulihan daya beli domestik dan siklus komoditas berikutnya.
Daya Beli Mobil Melemah, Batu Bara Terkoreksi
Tekanan pada segmen otomotif ASII sejalan dengan perlambatan pasar kendaraan nasional sepanjang 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil dari pabrik ke dealer atau whole sales hanya mencapai 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan 865.723 unit pada 2024. Penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga turun 6,3 persen menjadi 833.692 unit.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut penurunan tersebut mencerminkan melemahnya permintaan kendaraan baru sepanjang tahun lalu. Meski begitu, selisih antara whole sales dan retail masih berada dalam batas yang terkendali.
Perbaikan sempat terlihat pada akhir tahun. Penjualan whole sales pada Desember 2025 mencapai 94.100 unit, melonjak 26,9 persen dibandingkan November 2025 dan naik 25,7 persen secara tahunan. Penjualan ritel pada bulan yang sama tercatat 93.833 unit atau tumbuh 22,7 persen dibandingkan Desember 2024. Namun lonjakan tersebut belum cukup untuk menutup kontraksi sepanjang tahun.
Dominasi merek Jepang masih kuat dengan Toyota, Daihatsu, dan Mitsubishi Motors memimpin penjualan whole sales. Pada sisi ritel, Toyota, Daihatsu, dan Honda tetap menjadi kontributor utama. Sementara itu, produsen asal Cina BYD muncul sebagai merek dengan penjualan tertinggi dari kelompok non-Jepang, dan VinFast menjadi satu-satunya merek Asia Tenggara yang mencatatkan distribusi lebih dari 10 ribu unit sepanjang 2025.
Di luar otomotif, tekanan juga datang dari lini usaha yang terkait dengan komoditas. Harga batu bara Newcastle yang menjadi acuan global menunjukkan tren penurunan tajam setelah fase supercycle. Pada 2022, harga sempat mencetak rekor di atas USD450 per ton.
Memasuki 2023, harga rata-rata turun ke kisaran sekitar USD170 per ton, lalu kembali melemah pada 2024 ke rentang sekitar USD125–USD136 per ton. Sepanjang 2025, normalisasi berlanjut dengan rata-rata hanya sekitar USD104 per ton. Pada awal 2026, harga bergerak stabil di kisaran USD110–USD115 per ton.
Tren penurunan dari level puncak tersebut berarti harga telah terkoreksi lebih dari 70 persen dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini membuat margin bisnis alat berat, kontraktor tambang, dan energi tertekan. Aktivitas produksi yang tetap berjalan menjaga pendapatan segmen, namun turunnya harga jual komoditas menggerus profitabilitas.
Bagi ASII, situasi ini menjelaskan mengapa pendapatan dari segmen yang berkaitan dengan pertambangan masih dapat tumbuh, tetapi laba segmennya justru turun karena tekanan pada sisi harga.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.