KABARBURSA.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, tengah membidik instrumen baru untuk mencari sumber pendanaan baru yang lebih murah. Panda Bonds, surat utang berdenominasi yuan yang diterbitkan di pasar domestik China oleh entitas asing.
Strategi tersebut muncul ketika tekanan terhadap rupiah masih tinggi dan biaya pendanaan global berbasis dolar belum sepenuhnya turun.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan Panda Bonds di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi,” ujar Purbaya, Rabu, 6 Mei 2026.
Langkah Indonesia masuk ke pasar Panda Bonds bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, instrumen ini memang sedang naik daun di pasar global, terutama setelah tensi geopolitik dan perbedaan arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan China membuat banyak negara mulai mencari alternatif pembiayaan selain dolar AS.
Apa itu Panda Bonds?
Secara sederhana, Panda Bonds adalah obligasi dalam mata uang yuan atau renminbi (RMB) yang diterbitkan oleh pihak asing di pasar obligasi domestik China. Artinya, penerbit berasal dari luar China daratan, tetapi dana yang dihimpun berasal dari investor lokal China dengan menggunakan mata uang yuan.
Instrumen ini pertama kali diperkenalkan pada 2005 melalui penerbitan oleh Asian Development Bank (ADB) dan International Finance Corporation (IFC). Pada awal kemunculannya, pasar Panda Bonds belum terlalu ramai karena regulasi China masih cukup ketat terhadap penerbit asing.
Namun situasinya berubah dalam satu dekade terakhir. Pemerintah China mulai melonggarkan aturan penerbitan, memperjelas penggunaan dana hasil obligasi, hingga membuka akses lindung nilai valuta asing atau hedging bagi penerbit luar negeri.
Perubahan tersebut membuat pasar Panda Bonds tumbuh sangat cepat. Data Deutsche Bank Research menunjukkan nilai penerbitan bruto Panda Bonds mencapai RMB155 miliar pada 2023 dan melonjak lagi menjadi RMB195 miliar sepanjang 2024.
Lonjakan itu didorong kombinasi beberapa faktor. Selain biaya pendanaan yang lebih rendah dibanding obligasi dolar AS, banyak perusahaan dan negara mulai menjalankan strategi diversifikasi pembiayaan akibat ketidakpastian geopolitik global.
Keuntungan Panda Bonds
Bagi Indonesia, keuntungan utama dari Panda Bonds terletak pada biaya bunga yang lebih kompetitif. Purbaya menilai pasar keuangan China menawarkan tingkat bunga yang lebih rendah sehingga bisa mengurangi tekanan biaya utang pemerintah di tengah tingginya suku bunga global.
Selain faktor bunga, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi mata uang pembiayaan. Selama ini, sebagian besar surat utang internasional Indonesia masih didominasi dolar AS, sehingga pergerakan kurs rupiah sangat sensitif terhadap penguatan dolar.
Dengan masuk ke pasar yuan, pemerintah mencoba memperluas sumber likuiditas sekaligus mengurangi risiko ketergantungan tunggal terhadap mata uang Amerika Serikat. Strategi seperti ini mulai banyak digunakan negara berkembang yang ingin menjaga fleksibilitas pembiayaan di tengah volatilitas pasar global.
Pasar Panda Bonds sendiri kini diisi berbagai penerbit mulai dari korporasi global, lembaga keuangan internasional, hingga pemerintah negara lain. Investor domestik China juga mulai aktif memburu instrumen ini karena dianggap menawarkan kualitas kredit yang baik dengan imbal hasil menarik.
Beda dengan Dim Sum Bonds
Meski begitu, Panda Bonds berbeda dengan Dim Sum Bonds yang juga sama-sama menggunakan mata uang yuan. Jika Panda Bonds diterbitkan di pasar domestik China, maka Dim Sum Bonds diterbitkan di luar China, biasanya di Hong Kong.
Dari sisi ukuran pasar, Dim Sum Bonds saat ini memang masih lebih besar. Namun Panda Bonds tumbuh lebih cepat karena didukung reformasi regulasi dan meningkatnya minat investor lokal China terhadap penerbit asing.
Rencana Indonesia menerbitkan Panda Bonds juga datang di tengah fokus pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Menurut Purbaya, pemerintah akan menyiapkan stimulus tambahan pada Juni 2026 guna menjaga akselerasi ekonomi pada kuartal kedua tahun ini.(*)