KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia bergerak dalam tekanan yang tidak lagi sekadar fluktuatif, tetapi mulai mencerminkan perubahan struktur pasokan global, setelah konflik Iran mendorong gangguan signifikan pada jalur distribusi energi utama dunia.
Sejak pecahnya perang, harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 50 persen dan sempat menembus USD119 per barel pada pekan lalu. Kenaikan ini tidak hanya dipicu oleh serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, tetapi juga oleh ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global.
Pergerakan pada perdagangan terakhir menunjukkan bahwa harga minyak kini bertahan di level tinggi dengan sensitivitas yang semakin besar terhadap setiap perkembangan geopolitik.
Dalam kondisi saat ini, gangguan pasokan global diperkirakan telah mencapai sekitar 11 juta barel per hari per 23 Maret 2026, berdasarkan data International Energy Agency. Angka tersebut mencerminkan tekanan yang cukup dalam terhadap keseimbangan pasar, di tengah belum adanya kejelasan kapan aliran distribusi akan kembali normal.
Eskalasi Militer di Kharg Island
Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pasar adalah Kharg Island, pusat ekspor utama Iran yang menyumbang sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut. Wacana potensi eskalasi militer yang menyasar wilayah ini membuka ruang risiko tambahan, dengan proyeksi harga minyak dapat bergerak melampaui USD120 hingga mendekati USD200 per barel dalam skenario ekstrem.
Dalam proyeksi rata-rata, analis memperkirakan harga minyak berada di kisaran USD134,62 per barel dengan rentang yang cukup lebar antara USD100 hingga USD190. Bahkan dalam skenario eskalasi yang lebih tinggi, estimasi rata-rata harga mencapai USD153,85. Prediksi ini menunjukkan tingkat ketidakpastian yang masih sangat tinggi di pasar energi global.
Dampak dari lonjakan harga ini mulai terasa secara luas di ekonomi global. Negara-negara importir energi, terutama di Asia dan Eropa, menjadi pihak yang paling terdampak, dengan potensi tekanan yang semakin besar jika harga minyak bertahan di atas USD150 per barel.
Risiko tersebut tidak hanya terbatas pada inflasi, tetapi juga mencakup potensi pembatasan energi, baik untuk kebutuhan industri maupun konsumsi rumah tangga.
Potensi Pembatasan Listrik dan Bahan Bakar
Di kawasan Asia, tekanan diproyeksikan muncul dalam bentuk yang berbeda. Negara-negara Asia Utara berpotensi menghadapi risiko pembatasan listrik, sementara Asia Selatan dan Asia Tenggara menghadapi potensi pembatasan bahan bakar untuk sektor konsumsi dan industri.
Kondisi ini mencerminkan bagaimana gangguan di satu jalur distribusi dapat menjalar ke berbagai lapisan ekonomi secara simultan.
Selain itu, dampak lanjutan juga mulai terlihat pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi. Industri berbasis kimia, pertanian, serta sektor manufaktur yang bergantung pada distribusi logistik menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan biaya.
Kenaikan biaya transportasi tidak hanya mempengaruhi barang konsumsi, tetapi juga barang modal, hingga memperluas tekanan ke rantai pasok global secara keseluruhan.
Pergerakan harga minyak pada akhir pekan ini memperlihatkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik. Arah harga tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan suplai dan permintaan, tetapi juga oleh dinamika geopolitik yang terus berubah, menjadikan volatilitas sebagai karakter utama dalam perdagangan energi global saat ini.(*)