KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan sebesar 7 persen pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Pelemahan ini karena adanya tanda-tanda kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun belum ada kejelasan antar keduanya.
Mengutip CNBC, harga minyak Brent ambles hingga 7 persen atau ditutup pada level USD96,14 per barel. Sementara itu West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 6 persen menjadi USD90,30 per barel.
Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah mendesak Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania untuk bergabung dengan kesepakatan Abraham dan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel di tengah negosiasi antara pemerintahannya dengan Iran.
Ia menyatakan diskusi dengan Iran berjalan dengan baik, walaupun ia memperingatkan jika AS dapat kembali menyerang kalau pembicaraan itu gagal menemui titik terang.
“Hanya akan ada kesepakatan besar untuk semua atau, tidak ada kesepakatan sama sekali,” tulis Trump lewat media sosial.
Adapun pada Sabtu kemarin, Trump juga menyebut kesepakatan dengan Iran agar Selat Hormuz dibuka kembali akan segera diumumkan.
Ia menyampaikan konflik dengan Iran akan segera selesai, namun ketegangan justru meningkat dan membuat harga minyak mentah kembali melonjak.
Adapun pada pekan lalu minyak mentah AS telah menyusut lebih dari 8 persen dengan Brent anjlok lebih 5 persen usai Trump mengumumkan dia membatalkan serangan udara ke Iran.
Perlu diketahui, harga minyak mentah dunia telah melonjak lebih dari 30 persen sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026.
Iran sendiri telah memberlakukan blokade terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Kondisi ini membuat kapal pengangkut minnyak mengantongi izin sebelum melintas jalur tersebut.
Blokade itu mulai berlaku setelah kepala negara Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan para pemimpin tinggi lainnya tewas akibat serangan udara AS dan Israel.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting di dunia bagi minyak mentah. Terdapat 20 persen pasukan global melewati jalur ini sebelum perang. (*)