KABARBURSA.COM – Harga minyak naik lebih dari 1 persen pada Senin, 18 Mei 2026, setelah upaya mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tampak menemui jalan buntu.
Kondisi tersebut terjadi setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab diserang drone dan Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan membahas opsi militer terhadap Iran.
Sebagaimana dikutip dari Reuters, futures minyak mentah Brent naik USD1,36 atau 1,24 persen menjadi USD110,62 per barel pada pukul 22.02 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level USD107,26 per barel, naik USD1,84 atau 1,75 persen.
Persediaan Minyak Global Terancam Sentuh Titik Kritis
Cadangan minyak global turun dengan kecepatan tercepat dalam beberapa tahun terakhir untuk menutup gangguan pasokan besar di Timur Tengah. Persediaan tersebut diperkirakan mendekati level kritis jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanan pekan ini memperingatkan harga minyak dan bahan bakar berpotensi terus naik menjelang puncak permintaan musim panas.
“Cadangan penyangga yang menyusut cepat di tengah gangguan berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga di masa mendatang,” tulis IEA.
Pasar minyak sejauh ini belum sepenuhnya merasakan dampak kehilangan pasokan karena masih ditopang oleh persediaan komersial milik industri, cadangan strategis pemerintah, serta minyak yang masih berada dalam pengiriman laut. Hal tersebut disampaikan CEO Exxon Mobil Darren Woods dalam paparan kinerja kuartal I perusahaan.
Menurut Woods, stok tersebut membantu meredam dampak gangguan pasokan pada Maret dan April. Namun ia mengingatkan persediaan komersial pada akhirnya akan turun ke level yang tidak lagi mampu menopang kebutuhan pasar.
“Kami memperkirakan jika itu terjadi dan Selat Hormuz tetap ditutup, harga di pasar akan terus meningkat,” ujar Woods.
Stok Dekati Level Terendah
Bank Swiss UBS memperkirakan persediaan minyak global masih berada di atas 8 miliar barel pada akhir Februari atau mendekati level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Namun hingga akhir April, stok turun menjadi 7,8 miliar barel.
Analis UBS memperkirakan persediaan dapat turun mendekati rekor terendah 7,6 miliar barel pada akhir Mei jika permintaan tetap stabil dari bulan ke bulan. JPMorgan sebelumnya juga menyebut level tersebut berpotensi memberi tekanan besar terhadap rantai pasok energi global.
Menurut JPMorgan, jumlah miliaran barel tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tersedia untuk digunakan pasar. Hanya sekitar 800 juta barel yang benar-benar dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu stabilitas sistem distribusi energi.
Sisanya diperlukan untuk menjaga pipa dan tangki penyimpanan tetap berada pada level minimum agar rantai pasok berjalan efisien.
“Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, persoalannya ada pada sirkulasi,” kata Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan Natasha Kaneva. “Sistem tidak gagal karena minyak hilang, tetapi karena jaringan sirkulasinya tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup.”
JPMorgan memperkirakan persediaan minyak global dapat turun ke level kritis 6,8 miliar barel pada September jika Selat Hormuz masih ditutup hingga saat itu. Sementara Rapidan Energy memperkirakan persediaan produk bahan bakar dapat mencapai level kritis lebih cepat, yakni pada Juli atau Agustus.
Analis Rapidan menyebut ekonomi global dapat “macet” karena infrastruktur transportasi penting tidak lagi mampu memperoleh bahan bakar berapa pun harganya.
Meski demikian, para analis menilai persediaan kemungkinan besar tidak akan benar-benar mencapai level kritis tersebut. Sebelum itu terjadi, harga minyak dan bahan bakar diperkirakan akan melonjak tajam sehingga menekan permintaan dan memicu kontraksi ekonomi yang berat.
“Kondisi itu kemungkinan terjadi sebelum kuartal III 2026,” tulis analis Rapidan.(*)