Logo
>

Harga Minyak RI Melonjak, ICP April 2026 Tembus 117 Dolar AS per Barel

Kenaikan tajam sebesar 15,05 dolar AS per barel itu terjadi di tengah lanskap geopolitik global yang semakin bergejolak.

Ditulis oleh Gusti Ridani
Harga Minyak RI Melonjak, ICP April 2026 Tembus 117 Dolar AS per Barel
Harga Minyak RI Melonjak, ICP April 2026 Tembus 117 Dolar AS per Barel. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 berada di level 117,31 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan periode Maret 2026 yang masih bertengger di kisaran 102,26 dolar AS per barel.

Kenaikan tajam sebesar 15,05 dolar AS per barel itu terjadi di tengah lanskap geopolitik global yang semakin bergejolak. Bara konflik di Timur Tengah belum juga mereda. Ketegangan di jalur strategis Selat Hormuz kembali memantik kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlangsungan distribusi minyak dunia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menuturkan bahwa eskalasi konflik geopolitik menjadi variabel dominan yang mengerek harga minyak mentah sepanjang April 2026. Situasi tersebut, kata dia, memperbesar risiko terganggunya pasokan energi global.

“Peningkatan harga minyak mentah pada April 2026 dipengaruhi oleh berlanjutnya eskalasi konflik geopolitik yang meningkatkan risiko gangguan suplai minyak dunia, terutama terkait kondisi di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz,” ujar Laode dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa 19 Mei 2026.

Penetapan ICP April 2026 itu dituangkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 203.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan April 2026.

Di balik kenaikan tersebut, pasar minyak global sepanjang April juga dibayangi sederet dinamika yang menambah tensi ketidakpastian. Mulai dari friksi di Selat Hormuz, kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, hingga rentetan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Kombinasi faktor tersebut membentuk atmosfer pasar yang sarat tekanan.

Pelaku industri energi pun kian waswas. Stabilitas pasokan minyak global dianggap berada dalam fase rentan.

Tak hanya faktor geopolitik, geliat ekonomi China turut menyuntikkan sentimen positif bagi permintaan minyak dunia. Pada triwulan pertama 2026, ekonomi Negeri Tirai Bambu tumbuh 5 persen secara tahunan. Angka itu mempertegas masih tingginya kebutuhan energi dari salah satu konsumen minyak terbesar di dunia tersebut.

Meski demikian, Laode mengingatkan bahwa laju kenaikan harga minyak belum tentu berlangsung tanpa hambatan. Sejumlah faktor diperkirakan dapat menahan reli harga dalam beberapa waktu mendatang.

Salah satunya ialah proyeksi penurunan permintaan minyak global pada triwulan II 2026 yang diperkirakan mencapai 5 juta barel per hari secara tahunan. Selain itu, peluang terbukanya kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan Amerika Serikat juga dinilai berpotensi meredam tekanan geopolitik yang selama ini menopang harga minyak tinggi.

“Pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar minyak global secara cermat untuk menjaga ketahanan energi nasional serta memastikan stabilitas pasokan energi dalam negeri,” kata Laode.

Secara terperinci, sejumlah harga minyak mentah utama dunia pada April 2026 menunjukkan pergerakan yang variatif dibandingkan bulan sebelumnya.

Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia melesat 15,05 dolar AS per barel, dari sebelumnya 102,26 dolar AS menjadi 117,31 dolar AS per barel.

Minyak mentah Brent (ICE) turut menanjak sebesar 2,86 dolar AS per barel, dari 99,60 dolar AS menjadi 102,46 dolar AS per barel.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) di pasar Nymex naik 7,06 dolar AS per barel, dari level 91,00 dolar AS menjadi 98,06 dolar AS per barel.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada Dated Brent yang melonjak 16,66 dolar AS per barel, dari 103,89 dolar AS menjadi 120,55 dolar AS per barel.

Berbeda dengan tren tersebut, Basket OPEC justru mengalami koreksi. Hingga 29 April 2026, harga rata-ratanya turun 7,81 dolar AS per barel dari 116,36 dolar AS menjadi 108,55 dolar AS per barel.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang