KABARBURSA.COM – Harga minyak mentah Amerika Serikat menembus USD100 per barel pada Minggu malam, ketika pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg.
Seperti dilansir CNBC, harga minyak mentah AS naik 2,64 persen menjadi USD101,32 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global menguat 2,94 persen ke level USD106,17 per barel.
Presiden Donald Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg. Trump mengatakan serangan tersebut tidak merusak infrastruktur minyak. Namun ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan menyerang fasilitas minyak mentah di pulau tersebut jika Iran terus menyerang kapal tanker di Selat Hormuz yang sangat vital.
Gedung Putih berencana mengumumkan paling cepat pekan ini bahwa sejumlah negara telah sepakat membantu mengawal kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz, kata pejabat Amerika Serikat kepada The Wall Street Journal. Namun mereka masih membahas apakah operasi tersebut akan dimulai sebelum atau setelah perang berakhir.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, kembali menegaskan ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur minyak di pulau tersebut. Sekitar 90 persen ekspor minyak Iran dikirim dari fasilitas itu, menurut JPMorgan. Iran memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak per hari pada Februari, berdasarkan data OPEC.
“Untuk saat ini, ia dengan sengaja hanya menargetkan infrastruktur militer,” kata Waltz kepada CNN dalam wawancara pada Minggu. “Dan saya pikir ia akan mempertahankan opsi untuk menyerang infrastruktur energi mereka jika diperlukan.”
Serangan Amerika Serikat di Pulau Kharg serta ancaman Trump terhadap infrastruktur minyak Iran menandai eskalasi besar dalam konflik yang sedang berlangsung, kata Natasha Kaneva, kepala strategi komoditas global JPMorgan, dalam catatan kepada klien pada Jumat.
Serangan langsung terhadap terminal ekspor Iran di pulau tersebut dapat segera menghentikan sebagian besar ekspor minyak mentah negara itu yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, ujar Kaneva. Situasi ini berpotensi memicu “pembalasan keras” dari Iran, baik di Selat Hormuz maupun terhadap infrastruktur energi di kawasan.
Serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia juga telah hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur perdagangan paling penting bagi pasar minyak global. Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur laut sempit tersebut.
Penutupan Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Harga minyak melonjak lebih dari 40 persen sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran tiga pekan lalu. Minyak Brent juga ditutup di atas USD100 untuk pertama kalinya dalam empat tahun pada pekan lalu.
Kenaikan harga terjadi meskipun lebih dari 30 negara telah sepakat melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak untuk mengatasi gangguan pasokan. Langkah ini menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah. Amerika Serikat sendiri akan melepas sekitar 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve sebagai bagian dari upaya tersebut.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) yang berbasis di Paris dan mengoordinasikan langkah tersebut mengatakan pada Minggu bahwa negara-negara Asia akan mulai melepas pasokan minyak darurat segera. Sementara negara-negara di Amerika dan Eropa dijadwalkan mulai melepas cadangan mereka pada akhir Maret.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan tidak ada jaminan harga minyak akan turun dalam beberapa pekan mendatang.
“Tidak ada jaminan dalam situasi perang,” kata Wright kepada ABC News dalam wawancara. “Yang bisa saya pastikan, situasinya akan jauh lebih buruk tanpa operasi militer untuk melemahkan rezim Iran.” (*)