Logo
>

Nada Hawkish The Fed Guncang Bitcoin, Ini Level Kunci yang Dipantau Trader

Harga Bitcoin tertekan risalah The Fed yang hawkish. Analis ungkap area support dan resistance krusial yang menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Nada Hawkish The Fed Guncang Bitcoin, Ini Level Kunci yang Dipantau Trader
Bitcoin melemah akibat sentimen hawkish The Fed. Simak level support, resistance, dan proyeksi pergerakan kripto dalam jangka pendek menurut analis. Foto: Economic Times

KABARBURSA.COM — Harga Bitcoin masih bergerak dalam tekanan setelah risalah rapat bank sentral Amerika Serikat memberi sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat atau Hawkish dari perkiraan pasar. Pada Kamis siang 19 Februari 2026, aset kripto terbesar itu berada di kisaran USD67.172 atau sekitar Rp1,13 miliar, sempat turun ke bawah USD66.500 atau sekitar Rp1,12 miliar.

Pelemahan terjadi tak lama setelah publikasi minutes Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan belum adanya urgensi untuk kembali menurunkan suku bunga. Sikap tersebut membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang pelonggaran moneter dalam waktu dekat, sekaligus menekan minat terhadap aset berisiko.

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai pergerakan kripto saat ini merupakan bentuk penyesuaian cepat terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. “Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat, 20 Februari 2026.

Dalam risalah rapat 27 sampai 28 Januari, Komite Pasar Terbuka Federal memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen melalui voting 10 banding 2. Dua anggota yang berbeda pandangan mendorong pemangkasan seperempat poin karena melihat risiko di pasar tenaga kerja. Namun mayoritas menilai pelonggaran tambahan berpotensi melemahkan komitmen terhadap target inflasi 2 persen.

Dokumen tersebut juga membuka ruang kemungkinan penyesuaian suku bunga ke atas apabila tekanan harga tidak mereda sesuai harapan. Sinyal ini langsung direspons pasar dengan aksi jual pada aset berisiko, termasuk kripto. Tekanan terhadap Bitcoin makin terasa ketika ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak melonjak lebih dari 4 persen. Kondisi tersebut memicu pergeseran ke mode risk off di pasar global.

“Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” kata Fyqieh.

Kembalinya likuiditas pasar Asia setelah libur Tahun Baru Imlek turut mempercepat pergerakan harga. Volume transaksi yang meningkat membuat tekanan jual dalam jangka pendek terlihat lebih tajam. Di saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati transisi kepemimpinan bank sentral AS. Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026 dan Presiden Donald Trump telah menominasikan Kevin Warsh sebagai pengganti.

Meski Warsh dikenal lebih mendukung suku bunga rendah, risalah rapat menunjukkan mayoritas anggota Federal Reserve masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama. Pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga paling cepat terjadi pada Juni 2026.

Secara teknikal, Bitcoin dinilai masih berada dalam fase konsolidasi dan bergerak di area penentuan arah. “Bitcoin sedang bergerak di sekitar zona support jangka pendek di kisaran USD66.200 hingga USD67.800. Selama area ini bertahan, peluang pemulihan tetap terbuka, meskipun pergerakan cenderung terbatas karena pasar masih menunggu katalis baru,” jelas Fyqieh.

Level resistensi terdekat berada di sekitar USD68.380 atau sekitar Rp1,15 miliar. Jika mampu ditembus, harga berpotensi menguji area USD69.250 hingga USD70.800 atau sekitar Rp1,17 miliar sampai Rp1,19 miliar. Namun apabila tekanan jual kembali meningkat dan area support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan masih terbuka.

Dengan kombinasi sikap The Fed yang tetap ketat, ketidakpastian arah kepemimpinan bank sentral AS, serta dinamika geopolitik global, pergerakan pasar kripto diperkirakan masih fluktuatif dalam beberapa pekan ke depan sambil menunggu sinyal baru terkait arah kebijakan moneter.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).