Logo
>

Nasdaq Runtuh, Bubble AI Pecahkan Gelembung Wall Street

Koreksi tajam saham AI mengguncang Nasdaq dan S&P 500, memicu rotasi sektor di Wall Street, sementara energi justru menguat di tengah eskalasi risiko geopolitik dan sikap wait and see pasar.

Ditulis oleh Yunila Wati
Nasdaq Runtuh, Bubble AI Pecahkan Gelembung Wall Street
Ilustrasi pergerakan Nasdaq Composite, S&P 500, serta Dow Jones di Wall Street. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Pasar saham Amerika Serikat berantakan. Nasdaq Composite runtuh, indeks S&P 500 terkoreksi selama empat hari berturut-turut. Narasi AI menjadi tekanan utama yang merontokkan kekuatan Wall Street.

Nasdaq Composite, yang sarat dengan saham teknologi, runtuh hingga 1,8 persen. Disusul S&P 500 yang melemah 1,2 persen. Sedangkan Dow Jones terkoreksi tipis 0,5 persen.

Pelemahan ini rupanya karena pasar yang mulai menguji ulang narasi dominasi AI yang sebelumya tak tergoyahkan. Investor mulai mempertanyakan valuasi yang telah melambung terlalu tinggi. Mereka tidak hanya khawatir soal harga saham, tapi keberlanjutan model bisnis, profitabilitas jangka menengah, serta beban utang yang meningkat seiring masifnya belanja modal untuk infrastruktur AI.

Koreksi tajam terjadi pada saham-saham besar seperti Nvidia (-3,8 persen), Broadcom (-4,5 persen), Oracle (-5,4 [ersen) dan CoreWeave yang anjlo hingga 7,1 persen.

Survei UBS menunjukkan, hanya 17 perusahaan besar yang menyatakan proyek AI mereka sudah masuk tahap produksi skala penuh. Ini menunjukkan bahwa monetisasi AI secara nyata masih tertinggal jauh disbanding ekspektasi pasar selama ini.

Bagi investor, hal ini menjadi pengingat bahwa lonjakan belanja dan narasi teknologi belum tentu langsung berujung pada lonjakan pendapatan, setidaknya hingga 2026.

Pelemahan AI merembet pula ke sektor utilitas dan energi listrik. Hal ini dibuktikan dengan harga saham Constellation Energy yang turun 6,7 persen.

Sentimen negatif untuk Wall Street juga datang dari sektor perumahan dan asuransi. Saham Lennar jatuh 4,5 persen setelah laporan laba kuartalannya meleset dari ekspektasi. Manajemen menyoroti melemahnya kepercayaan konsumen dan meningkatnya sensitivitas harga, di mana tekanan suku bunga dan daya beli rupanya sangat membayangi sektor property.

Saham Progressive ikut jatuh 2 persen, setelah laba bersih November tercatat turun 5 persen year on year.

Sektor Energi Memanas, Pasar Obligasi Stabil

Namun tidak semua sektor di Wall Street hancur. Sektor energi menjadi penahan kejatuhan indeks. Terutama tersentil oleh Keputusan Presiden AS Donald Trump yang memblokasi kapal tanker yang terkena sanksi dari dan menuju Venezuela.

Harga WTI yang naik 1,2 persen ke USD55,94 per barel, serta Brent yang menguat 1,3 persen ke USD59,68 per barel, mendorong saham-saham energi menguat signifikan. ConocoPnillips naik 4,6 persen, Devon Energy melonjak 5,3 persen, dan Exxon Mobil menguat 2,4 persen.

Di pasar obligasi, imbal hasil relatif stabil. Yield Treasury AS untuk tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,15 persen. Pasar sedang mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi konsumen AS. 

Sementara itu, pasar global menunjukkan pergerakan yang terfragmentasi. Bursa Eropa bergerak campuran setelah penutupan positif di Asia. Indeks Kospi Korea Selatan justru melonjak 1,4 persen, menjadi salah satu penguatan terbesar secara global dan memangkas kerugian mingguan menjadi 2,7 persen. 

Secara keseluruhan, data perdagangan menunjukkan Wall Street sedang berada dalam fase penyesuaian ekspektasi. Reli panjang yang dipimpin saham AI mulai diuji oleh realitas valuasi, monetisasi, dan beban pendanaan. 

Di saat yang sama, faktor geopolitik kembali menghidupkan sektor-sektor lama seperti energi sebagai alternatif penempatan dana. Selama data inflasi dan arah kebijakan moneter belum memberikan kepastian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, dengan rotasi sektor menjadi ciri utama pergerakan pasar dalam jangka pendek.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79